08 Sept 2011     
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Menguntungkan, Ternak Ayam Silangan

Denpasar (Bisnis Bali) – Selama ini ternak ayam silangan masih minim, bahkan nyaris belum ada peternak ayam silangan yang mampu melayani permintaan. Hanya ternak yang dilakukan penghobi saja, itu pun jumlahnya tidak banyak.

Hasilnya pun demikian, untuk mendapatkan silangan yang berkualitas memerlukan waktu dan usaha keras. Pasalnya, ternak silangan belum tentu hasilnya sesuai harapan. Misalkan, silangan ayam hutan pejantan (keker) dengan ayam biasa, anakannya belum tentu kancingan. Bisa saja semuanya ayam biasa atau beberapa ekor saja yang kancingan.

Budiasa, salah seorang peternak ayam silangan asal Tajun-Singaraja yang ditemui Bisnis Bali di Denpasar, Rabu (7/9) kemarin menerangkan, selama ini memang belum ada peternak silangan yang besar. Tapi masyarakat penghobi yang melakukan ternak kecil-kecilan banyak sekali. Bahkan, hampir di semua pedesaan ada yang melakukan hal tersebut. Hanya saja, sekarang ini masih banyak permintaan belum teratasi.

“Kami banyak permintaan dari masyarakat di Bali . Entah digunakan sebagai ayam pajangan atau aduan. Yang jelas, ayam silangan tersebut kelihatannya memang cukup menarik untuk dilihat (pajangan), suaranya juga sangat bagus (lebih nyaring dari ayam biasa).

Kemudian kalau untuk ayam aduan, sebagai ayam petarung justru sangat keras dan tarikannya lebih lemas tapi bertenaga. Makanya banyak penggemar sekaligus bebotoh membelinya untuk ayam petarung,” katanya.

Budiasa menjelaskan, berbagai jenis ayam silangan seperti betet, kancingan, BK, lopis, kleret dan lainnya. Dari berbagai jenis ini harganya cukup mahal. Dibandingkan ayam biasa, harganya bisa lima kali lipat,  bahkan lebih dari itu khusus untuk penghobi. Misalkan, harga kancingan, betet, BK hampir sama.

Untuk ayam petarung umur 7 bulan ke atas harganya bisa mencapai Rp 700.000 sampai Rp 1,5 juta per ekornya. Sementara untuk jenis kleret dan lopis lebih mahal, karena umumnya digunakan ayam aduan. Lebih kuat dan lebih kencang kalau diadu dengan ayam lainnya.

“Untuk mengembangkan memang tidak sulit, hanya melakukan kawin silang, kalau pejantannya kancingan dengan ayam betet atau ayam biasa maka hasilnya bisa saja hanya satu ekor yang bagus. Bisa saja semua tidak ada yang bagus, atau kalau gen pejantannya kuat terkadang semuanya menghasilkan ayam yang berkualitas,” katanya, sambil menerangkan untuk melakukan kawin silang hanya memerlukan waktu satu sampai satu setengah bulan sudah bertelur.

Sejak mulai mengeram telur (ayam betina) memerlukan waktu setengah bulan sudah lahir. Untuk makanan induknya yang bagus diberikan pakan konsentrat. Anaknya pun juga sama diberikan pakan yang berkualitas, sehingga hasilnya juga bagus. Untuk satu ekor ayam dalam satu bulan memerlukan pakan dua kilogram saja. *sta

 

 

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost