03 Sept 2011     
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Pemodal Besar masih Kuasai Peternakan Ayam di Bali

Denpasar (Bisnis Bali) - Dalam pengembangan sektor perunggasan, termasuk sektor peternakan ayam di Bali memang menggunakan pendekatan ekonomi kerakyatan. Dewan Pembina HKTI Bali, Bagus Sudibya, Jumat (2/9) kemarin mengatakan pada kenyataannya sektor perunggasan khususnya peternakan ayam di Bali mulai dikuasai pemodal besar dengan pendekatan ekonomi kapitalis.

Diungkapkan, dengan pendekatan ekonomi kapitalis pemodal besar bisa melakukan langkah monopoli, mengatur harga, dan distribusi. Ketika semua lini di sektor peternakan ayam sudah dikuasai pemodal besar, tidak ada yang tersisa bagi masyarakat lokal selaku peternak mandiri (peternak kecil). Ini dikarenakan, mulai produksi sampai distribusi sudah dikuasai pemilik modal.

Semestinya pemerintah harus ikut campur dalam pengembangan sektor peternakan ayam di Bali . Ini bisa dimulai dengan melakukan perencanaan holistik kebutuhan riil ayam di Bali . Selanjutnya, pemerintah mesti melihat kemampuan peternak memproduksi ayam, dan jalur distribusi. "Setelah kebutuhan, produksi dan distribusi sudah terancang baru bisa menentukan harga ayam yang wajar di tingkat peternak," katanya.

Dipaparkan, harga unggas khusus ayam di Bali ditentukan beberapa komponen meliputi DOC, pakan, tingkat kematian, obat-obatan, teknologi, dan pasar. Seperti DOC harus stabil dan jika memungkinkan harga DOC mesti disubsidi pemerintah.

Lebih lanjut dikatakan, jika pemerintah ingin melindungi peternak kecil pemerintah perlu membuatkan regulasi/pengaturan sektor peternakan di Bali . Pemerintah perlu memantau langsung mulai tempat penetasan DOC. Usaha penetasan DOC ini mesti dibuat dalam bentuk koperasi sehingga pendistribusian bisa dikontrol.

Menurutnya, pemerintah juga perlu bertanya apakah di Bali terdapat pabrik pakan ternak yang dikelola koperasi peternak mandiri. Dengan penyediaan pakan melalui koperasi ini peternak mandiri bisa menghadapi persaingan pemodal besar yang bergerak pada sektor peternakan ayam.

Pemerintah perlu melihat titik masalah kenapa peternak ayam di Bali tidak mampu memproduksi pakan ternak melalui wadah koperasi. Jika menghadapi kendala dalam suplai bahan baku pakan pemerintah perlu melakukan subsidi.

Ia melihat pemerintah perlu membantu peternak mendistribusikan hasil produksi ayam ke pasar. Untuk meningkatkan nilai jual ayam peternak, ayam tersebut bisa diperbanyak menjadi ayam panggang/ayam asap restoran.

Jika pendistribusian ayam dikelola bersama penyerapan hasil produksi ayam peternak masih bisa diupayakan dengan baik.

Ia meyakinkan, pemerintah jangan membiarkan pasar sepenuhnya mengatur sektor perunggasan (khususnya peternakan ayam) di Bali. Ketika pemodal besar dibiarkan melakukan monopoli maka hukum rimba yang berjalan. Pemodal besar yang kuat akan memukul atau memakan peternak kecil (peternak mandiri) yang lemah.

Bagus Sudibya menegaskan, jangan biarkan pasar sepenuhnya sektor peternakan ayam di Bali diserahkan kepada pasar. Peternak mandiri akan makin terhimpit perusahaan kemitraan yang menjadi pemodal besar. Hanya bersatu dalam wadah koperasi peternak mandiri bersaing dengan pemodal besar dengan berlandaskan ekonomi kerakyatan. *kup

 

 

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost