25 Juni 2011     
Home
Berita Terkini

 

Industri Uang Kepeng Kamasan Bali Jaga Warisan Kepercayaan Leluhur
Masyarakat Bali sangat menghormati hal-hal berbau mistis maupun kepercayaan turun temurun. Apa pun yang terkait dengan kedua hal itu akan menjadi sorotan dan memberi daya tarik tersendiri. Salah satunya uang kepeng ( pis bolong ) bergambar tokoh tertentu.

Ada kepercayaan, jika seseorang memegang atau memiliki uang tersebut maka sifatnya akan menyerupai tokoh dalam uang kepeng tersebut. Tidak hanya itu, uang kepeng juga punya fungsi vital dalam sarana upakara.

Hal ini pulalah yang dilirik industri uang kepeng Kamasan Bali yang juga membuka stan di ajang PKB ke-33. Pengelola stan Komang Mahayana menuturkan, pendirian industri uang kepeng ini timbul atas keprihatinan jarangnya uang kepeng produksi Bali. Pendiriannya atas saran mantan Gubernur Bali Dewa Made Brata pada 2004 silam dan kini industri uang kepeng ini di bawah pimpinan I Made Sukma Swacita.

Uang kepeng ini berbahan Pancadatu (lima kekuatan hidup) yang dipengaruhi oleh kekuatan Panca Dewata yaitu, besi melambangkan kekuatan Dewa Wisnu, perak melambangkan kekuatan Dewa Iswara, tembaga melambangkan kekuatan Dewa Brahma, emas melambangkan kekuatan Dewa Mahadewa, dan perunggu-kuningan melambangkan kekuatan Dewa Siwa. Karena bahan inilah maka uang kepeng Bali sangat cocok untuk jinah upakara Yadnya maupun untuk bawaan ( gegemet ) pribadi sesuai dengan gambar uang kepeng yang dirasakan pas dengan karakter pengguna.

Mahayana menjelaskan, kandungan uang kepeng Bali lebih lengkap dari uang kepeng Cina, yang sebagian besar hanya mengandung unsur Tridatu walaupun ada beberapa yang mengandung unsur Pancadatu. Motif uang kepeng Bali asli, imbuhnya, juga mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri. Namun akhir-akhir ini ada uang kepeng imitasi untuk sarana upakara yang motifnya menyerupai uang kepeng asli namun bahannya tidak menggunakan Pancadatu.

“Uang kepeng imitasi itu dijual lebih murah dengan harga Rp 300 hingga Rp 500 sedangkan uang kepeng asli harganya berkisar antara Rp 700 hingga Rp 1000. Namun uang kepeng imitasi ini mudah dibedakan berdasarkan kehalusan dan kerapian permukaan uang tersebut,” paparnya.

Selain uang kepeng lepas untuk jinah upakara yadnya maupun uang yang bermotif tokoh pewayangan, Kamasan Bali juga membuat sarana upakara dari uang kepeng seperti salang, nawa sanga, bandrung, tombak, arca dan sebagainya. Pemasarannya pun tidak hanya menyasar pasar lokal namun juga membidik pasar ekspor. “Kami mengekspor patung maupun hiasan dari uang kepeng ke Amerika, Swiss, Singapura dan Filipina,” terang Mahayana. Kerajinan uang kepeng ini pernah pula dipamerkan di ShangHai, Cina dan Madrid.

Menurutnya ajang PKB ini menjadi media pengenalan, agar uang kepeng Bali asli tetap diminati. Untuk di PKB harga uang kepeng bermotif wayang yang ditawarkan mulai Rp 50 ribu hingga ratusan ribu. Sementara untuk arca, harganya mencapai jutaan. Namun harga itu sebanding dengan nilai seni dan mistis magis yang ditawarkan. *dan

 

 


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost