13 Mei 2011   
Home
Berita Terkini

 

::Gaya Hidup
Di Pasar Domestik, Sepatu Produk Lokal dan Cina Bersaing Ketat
Denpasar (Bisnis Bali) - Untuk menjaga daya saing, para produsen sepatu lokal tak menaikkan harga jualnya. Selain itu, gerakan nasional penggunaan sepatu nasional diharapkan dapat menurunkan pasar sepatu impor Cina, khususnya untuk segmen menengah ke bawah. Mengingat, saat ini pasar domestik sepatu menjadi rebutan antara produk lokal dan Cina.

Menurut Coo Berca Retail Group (produsen sepatu merek League), Hartono Wijaya, baru-baru ini di Denpasar, belakangan ini produk Cina mendominasi pasar menengah ke bawah karena harganya jauh lebih murah. Jika tidak dilakukan antisipasi, maka akan membuat sepatu nasional tergeser di pasar lokal.

'Salah satu langkah yang kami lakukan sebagai produsen sepatu lokal untuk memenangkan pasar lokal adalah, dengan tidak menaikkan harga serta memenuhi sekitar 54 standar kualitas, dari bahan hingga desain yang diminati pasar,'' ujarnya.

Langkah ini, lanjut dia, juga menjadi modal utama untuk memperluas pangsa pasar ekspor. Terbukti, sepatu olahraga produksinya, saat ini telah berhasil menembus pasar ekspor di Amerika Serikat. Bahkan telah membangun desain office di Portland serta membangun office di San Fransisco, Huston, Portkand juga Columbia . 'Masuknya sepatu produk lokal ke negara adi daya, merupakan prestasi dunia sepatu nasional,'' ungkapnya.

Sebelumnya, pihaknya telah memasuki pasar Asia , seperti Singapura , Malaysia juga Jepang. 'Konstribusi pasar ekspor League sebesar 30% dari total produksi sebesar 1 juta pasang sepatu per bulan,'' jelasnya.

Lanjut Hartono, kendati produk lokal, namun standar kualitas bahan baku serta teknologi dalam proses produksinya menyamai merek internasional. Selain itu, harganya juga cukup terjangkau yakni mulai Rp 199.000 per pasang.

Hartono mengungkapkan, produk-produknya tidak kalah dengan produk luar negeri seperti merek-merek yang banyak digunakan oleh anak-anak muda sekarang. Produknya memiliki desain yang stylish, mengikuti tren anak muda serta kualitas material yang tinggi dan nyaman untuk dipakai.

Sementara itu, menurut Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Edi Widjanarko, kualitas produk lokal lebih baik dari produk impor. Tapi dari sisi harga, produk impor lebih murah. 'Untuk menjaga daya saing, kami berupaya untuk tidak menaikkan harga tahun ini, dan untuk ekspor kami perkirakan akan mencapai 3,2 milyar dolar AS, atau tumbuh 1 milyar setiap tahun,'' ujarnya.

Lanjut Edi, produk sepatu lokal menguasai sekitar 70% pangsa pasar kelas menengah ke atas, sedangkan untuk menengah ke bawah pangsa pasar sepatu lokal berbagi dengan produk Cina. 'Masing-masing 50% dengan produk impor," ungkapnya.

Menurutnya, berdasarkan data Asprindo, nilai penjualan sepatu di pasar domestik sepanjang 2010 mencapai Rp 25 trilyun, sedangkan untuk tahun 2011, angka pertumbuhan penjualan ditargetkan 8% atau menjadi Rp 27 trilyun di pasar lokal. Sementara untuk penjualan di pasar ekspor, mencapai 2,6 milyar dolar AS atau meningkat 43,8% dibanding realisasi penjualan tahun 2009 yang mencapai 1,7 milyar dolar AS.

Jenis sepatu untuk pasar ekspor tersebut masih didominasi produk sepatu olah raga (sport) dan sepatu kulit. Lonjakan sepatu impor asal Cina, lanjutnya, terjadi akibat implementasi perjanjian perdagangan bebas ASEAN -Cina (ASEAN-China Free Trade Agreement ACFTA). Impor mengalami peningkatan hampir 100%.

Berdasarkan data Kemendag, produk alas kaki asal Cina bahkan menguasai sekitar 61% pasar produk alas kaki impor. Impor alas kaki dari Cina pada Januari 2011 mencapai 6,69 juta dolar AS. Pada periode yang sama 2010, nilai impor produk tersebut hanya 3,4 juta dolar AS. Secara keseluruhan, alas kaki impor dari berbagai negara pada Januari 2011 mencapai 11,01 juta dolar AS, naik hampir 57% dibanding Januari 2010 yang tercatat 7,03 juta dolar AS.

Sementara itu, untuk mengurangi gempuran produk sepatu Cina, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengadakan program gerakan nasional memakai sepatu lokal. Penggunaan sepatu lokal dilakukan tiap Jumat.

'Kami memulai dari lingkungan Kemendag. Semoga ini menjadi langkah awal bergulirnya gerakan nasional memakai sepatu lokal sebagai bagian implementasi gerakan 100% Aku Cinta Indonesia (ACI)," tuturnya

Dia menyebut, pengadaan untuk sepatu nasional di lingkungan Kemendag akan dilakukan melalui kerjasama antara koperasi karyawan Kemendag dengan Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo). Para pegawai Kemendag diberikan kemudahan untuk membeli 22 merek sepatu lokal dengan sistem mencicil.

Selain itu, Kementerian Perdagangan akan memberikan tugas kepada atase perdagangan dan pusat promosi perdagangan Indonesia (Indonesian Trade Promotion Center) untuk berpromosi di luar negeri serta para kepala dinas industri dan perdagangan (Disperindag) di daerah untuk untuk membantu menyebarkan gerakan ini didaerah. *aya

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost