Denpasar (BisnisBali) – Anggaran promosi pariwisata Bali tahun 2009 sebesar Rp 7 milyar turun menjadi menjadi Rp 4 milyar pada tahun 2010, tentu akan memberatkan Disparda Bali dalam merancang kegiatan promosi.
President Junior Chamber International (JCI), Misto Leo Faisal, Rabu (10/3) kemarin mengatakan, melihat terbatasnya anggaran dana promosi pariwisata Bali tersebut, Disparda mesti memiliki strategi pemasaran yang jitu, sehingga promosi tepat sasaran.
Ia mengatakan, untuk menggaet wisatawan mancanegara ke kawasan pariwisata termasuk Bali perlu didukung dana promosi pariwisata yang cukup. Jika diibaratkan, wisatawan bisa seperti ikan.
Untuk mendapatkan ikan yang besar, pemerintah perlu memiliki kail yang besar. Kail besar merupakan bagian dari kegiatan dan dana promosi yang besar. Pemerintah memerlukan dana promosi yang besar untuk menggaet wisatawan dalam jumlah yang besar.
Ia menjelaskan, mungkin dengan dana promosi yang terbatas ini, akan cukup menyulitkan Disparda Bali dalam menggaet wisatawan dalam jumlah yang besar pada tahun 2010 ini. Dana promosi yang terbatas ini mesti dimanfaatkan secara optimal, sehingga bisa menjangkau pasar pariwisata Bali .
Dipaparkan, turunnya dana promosi pariwisata Bali bukan berarti kegiatan promosi Bali tidak akan optimal. Dengan dana yang terbatas ini, Pemprop Bali melalui Disparda Bali mesti menerapkan strategi promosi yang jitu. Ini diharapkan dengan dana promosi yang terbatas, diharapkan kegiatan promosi bisa tepat sasaran pasar yang ingin dijangkau.
Ia menilai, promosi yang dilakukan pelaku pariwisata Bali baik BPW maupun pengelola hotel di Bali tidak akan efektif jika hanya melalui website . Sama halnya pemerintah tidak akan optimal jika pemerintah hanya mengandalkan promosi pariwisata Bali melalui TV asing.
Ia mengatakan, pemerintah wajib tetap berpromosi langsung ke daerah tujuan pasar. Ini berdasarkan pertimbangan, calon wisatawan sebagai buyer termasuk biro perjalanan wisata di Bali sebagai seller akan mendapatkan keyakinan jika bertemu langsung dalam rangkaian kegiatan promosi.
Kegiatan promosi langsung ini tentunya melalui mediasi pemerintah melalui kegiatan promosi ke luar negeri. Di sisi lain, buyer di luar negeri bisa mendapatkan informasi pariwisata Bali yang lebih riil ketika pelaku pariwisata dan pemerintah Bali bisa melakukan promosi langsung ke daerah tujuan pasar.
Salah satu contoh wisatawan Jepang dan wisatawan dari negara lain tidak akan bisa berkunjung ke Bali jika tidak kenal langsung dengan pelaku pariwisata Bali . Calon wisatawan di antaranya bisa bertemu dengan pelaku pariwisata Bali melalui kegiatan promosi langsung yang dibantu pemerintah Bali .
Faisal berharap, Pemprop Bali melalui Disparda Bali tidak melepas keikutsertaannya dalam event berskala internasional yang bisa menjaring wisatawan berkunjung ke Bali .
Event besar ini di antaranya NATAS Singapura, ITB Berlin termasuk MATA Fair di Malaysia. Sangat disayangkan jika Disparda Bali tidak ikut dalam event berskala internasional yang mempertemukan seller dan buyer di seluruh dunia itu. *kup