11 Maret 2010     
Home
Berita Terkini

 

::Gaya Hidup
Di Bali, Pasar Batik dari Remaja hingga Dewasa

Denpasar (BisnisBali) – Kain maupun busana batik di Bali memiliki segmen pasar yang bagus. Betapa tidak, penggemarnya tak hanaya orang dewasa juga remaja.

‘'Dulu busana maupun kain batik lebih dominan digunakan oleh orang dewasa, namun kini batik juga didesain serta mulai diminati kaum remaja,” ujar Somiati, pemilik Umi Batik Barokah Jaya, Rabu (10/3) kemarin di Denpasar.

Diungkapkan, untuk di Bali pangsa pasar busana maupun batik sudah mulai lumayan ramai. Dengan menawarkan busana maupun kain batik tradisonal yang bercorak batik Madura, Yogyakarta , Solo dan Pekalongan mampu memikat kaum remaja untuk menggunakan batik.

Lebih jauh diungkapkan, masing-masing daerah tersebut memiliki ciri khas tersendiri dalam memproduksi batik, khususnya dari segi corak atau motif. Namun, mengenai bahan untuk membuat warna pada batik semua daerah rata-rata menggunakan bahan alami, yang tentu saja dengan teknik batik tulis.

Anggota Iwapi Bali sejak tahun 1985 ini mengatakan, model-model busana maupun corak batik itu sendiri dibuat dengan melihat pangsa pasar anak-anak muda, selain juga melirik segmen pasar orang tua.

‘'Anak muda saat ini sangat senang menggunakan batik, di samping harga yang terjangkau juga sebagai rasa cinta mereka terhadap kekayaan leluhur kita,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan, harga batik bervariasi, ada yang murah dan ada yang mahal. Harga tersebut tergantung pembuatan, bahan yang digunakan dan tentu saja kainnya.

Rata-rata ditempatnya tersebut harga busana maupun kain batik yang ditawarkan berkisar Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah. ‘'Batik tulis yang paling mahal yang pernah saya jual yaitu, Rp 2 juta dengan bahan sutra,” ungkapnya.

Disinggung mengenai pasar bebas serta persaingan, ditambahkan, kalau persaingan saat ini tidak ada masalah, namun yang terpenting adalah bagaimana memberikan pelayanan dan produk yang berkualitas pada konsumen yang tentu saja dengan harga yang terjangkau.

‘'Mudah-mudahan adanya pasar bebas dan masuknya produk-produk luar yang lebih murah, tidak mengurangi kecintaan masyarakat akan produk dalam negeri, sehingga bisa menggerakan ekonomi kerakyatan khususnya produksi batik ini,” imbuhnya. *dwi

 

 

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost