11 Maret 2010     
Home
Berita Terkini

 

Tiga Bulan, Dana JKBM di Buleleng Terserap Rp 2 Milyar

Singaraja (BisnisBali) - Setelah sempat tersendat, kucuran dana Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) untuk Kabupaten Buleleng kini berjalan lancar. Dalam kurun tiga bulan (Januari, Februari, dan Maret) dana JKBM di Buleleng terserap Rp 2 milyar.

Kendati pemanfaatan dana ini begitu besar, Pemkab Buleleng meyakini jatah JKBM masih mencukupi, apalagi Pemprop Bali mengalokasikan JKBM Rp 22 milyar.

Hal itu diungkapkan RSUD Buleleng dr. Nyoman Mardana di lobi kantor bupati, Rabu (10/3) kemarin.

Mardana menegaskan, sejak program JKBM digulirkan Pemprop Bali Januari 2010 lalu, masyarakat yang memanfaatkan dana ini begitu tinggi. Setiap hari cenderung menunjukkan peningkatan signifikan. Hanya sejak awal program ini dijalankan sempat terjadi keterlambatan realisasi dana JKBM ke Buleleng. Tak heran jika Pemkab Buleleng sempat dibuat pusing lantaran dana JKBM belum cair.

Sementara biaya obat dan perawatan pasien yang memakai dana JKBM terus membengkak. Beruntung setelah dilakukan koordinasi dengan Pemprop Bali, sehingga alokasi dana yang sempat tersendat itu kini telah cair. “Sudah tidak ada masalah lagi, dana yang sudah kita gunakan dalam tiga bulan ini sebesar Rp 2 milyar,” katanya.

Menurut Mardana, walau pemanfaatan dana JKBM ini tinggi, pihaknya tidak khawatir jika nanti ada kekurangan dana. Hal ini tidak lepas dari alokasi dana yang diterima dari Pemprop Bali sebesar Rp 22 milyar.

Dengan alokasi dana sebesar itu, Mardana menyatakan cukup untuk membiayai pengobatan maupun perawatan bagi pasien yang menggunakan fasilitas JKBM. “Masih ada sisa dana untuk keperluan bulan-bulan berikutnya, dan alokasi dana yang kita terima masih cukup,” imbuh dokter spesialis bedah ini.

Sebelumnya, realisasi dana JKBM untuk Kabupaten Buleleng sempat tersendat. Saat itu total klaim dana yang harus ditanggung dengan JKBM mencapai Rp 1,5 milyar. Klaim dana sebesar itu digunakan untuk biaya obat-obatan dan perawatan pasien yang masuk pada Januari 2010. Situasi ini membuat jajaran RSUD Buleleng pusing.

Sementara pihak distributor obat dan peralatan kesehatan tidak henti-henti meminta kapan RSUD melunasi utang-utangnya. Situasi ini sempat membuat RSUD takut karena tidak akan dipercaya oleh pihak distribotor obat dan peralatan karena pelunasan biayanya lama. * mud

 

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost