11 Maret 2010     
Home
Berita Terkini

 

Pasar Bebas Cina –ASEAN Mampu Gelitik Cara Pikir Kreatif dan Bersaing

Gianyar (BisnisBali) - Banyak kalangan yang takut menghadapi ASEAN-Cina Free Trade Agreement (ACFTA). Rasa ketakutan akan kalah saing menjadi hal pokok, namun demikian banyak pula yang mengaku siap, bahkan menantang pasar bebas antar-Cina segera terjadi.

ACFTA janganlah dianggap sebagai suatu momok yang menakutkan, justru dengan masuknya ACFTA memberikan motivasi bagi kaum pengusaha atau perajin aneka jenis kerajinan Bali.

Khususnya pengusaha kerajinan seperti tekstil produk tekstil (TPT), handicraft, maupun kerajinan lain yang skala usahanya di posisi menengah ke bawah.

Sebagai pengusaha, dengan munculnya ACFTA harus tertantang dan lebih inovatif serta mampu mencari solusi agar tetap bisa eksis di era globalisasi sekarang ini.

Untuk itu, pasar bebas mengharuskan kita harus berpikir kreatif, inovatif dan mampu bersaing baik dalam kualitas maupun harga. Hal ini disampaikan Ketua Iwapi Gianyar, Rai Sukmawati, Rabu (10/3) kemarin di Gianyar.

Menurut Sukmawati, p roduk kerajinan Bali mempunyai karakter tersendiri karena Bali kaya akan budaya. Budaya tersebut tercermin dalam produk yang dihasilkan oleh perajin di Bali yang mampu memancarkan keunikan dan keklasikannya yang justru menjadi incaran para konsumen lokal, domestik maupun asing.

Dalam hal nyata, jika bandingkan dengan produk Cina, kita mempunyai keunggulan tersendiri dan segmen pasar tersendiri, sehingga tidak perlu khawatir akan kehilangan segmen pasar.

Pasar yang dituju adalah menengah ke bawah dan produksi yang kita hasilkan mayoritas bersifat hand made . Selain memiliki nilai seni yang tinggi dibandingkan dengan produk Cina yang bersifat mass product .

Di samping itu, Cina masih dalam kategori negara miskin dan penduduknya sangat padat, sehingga produk yang dia hasilkan tidak mampu diserap oleh penduduk lokalnya. Untuk itu kondisinya memaksa harus menjual hasil produksinya keluar agar mampu mengimbangi industri yang ada di negara tersebut. Sementara pasar lokal di sini masih bisa diandalkan, terutama produk lokal yang diproduksi di Bali dengan pasar wisatawan yang meningkat. Hal ini mendorong perekonomian lokal membaik.

''Sebagai perajin kita dituntut untuk terus menggali ide-ide yang inovatif sehingga mampu menciptakan produk baru dan marketable . Peranan pemerintah pun dan industri terkait perlu ditingkatkan lagi, seperti di Kabupaten Gianyar sudah membentuk ”cluster” yang nantinya diharapkan bisa membantu para perajin,'' katanya.

Sukmawati menambahkan, pasar aneka kerajinan masih terbuka lebar dan masih visible untuk digarap, namun diperlukan kejelian dan teknik negosiasi sehingga bisa menghasilkan win-win solution , dan image perajin Bali hanya sebagai tukang bisa kita hilangkan.

Namun sebagai UKM harus mampu menjadi leader di bidangnya, dengan terus berkreasi sampai dicari oleh pasar. Hal ini mudah dilakukan, karena Bali memiliki taksu dengan menonjolkan kekhasan tradisional budayanya.

Unik, klasik dan ber- taksu , itulah gambaran Bali, sehingga dalam pengembangan bidang kerajinan sangat mudah, hanya saja perlu ditingkatkan akses pasarnya. *sta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost