MEMBANGUN dan mengembangkan pariwisata, bukan sekadar menjual objek wisata sehingga pelaku pariwisata berlomba mempromosikannya agar objek wisata tersebut cepat laku. Hal itu diungkapkan Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta, Widi Utaminingsih.
“Selama ini pengembangan pariwisata masih dipahami sekadar menjual objek wisata, bahkan keberhasilan pembangunan pariwisata hanya diukur dari banyaknya jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke objek wisata,” katanya, belum lama ini.
Menurut dia, apabila yang mendasari keberhasilan pembangunan pariwisata nasional adalah banyaknya jumlah wisman yang berkunjung ke negeri ini, berarti kepariwisataan yang dibangun selama ini menjadi sangat rapuh dan mudah tumbang karena pembangunan kepariwisataan di negeri ini hanya dipersiapkan untuk kepentingan bangsa lain, tanpa memahami kondisi bangsa sendiri. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan tersebut harus segera diubah.
“Ukuran keberhasilan pariwisata harus diubah, semestinya keberhasilan pariwisata dilihat dari sejauh mana kepariwisataan mampu mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan kebodohan,” katanya.
Menurut dia, banyaknya jumlah wisman yang berkunjung ke negeri ini sebenarnya hanya merupakan bonus atas keberhasilan dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat yang usahanya berada di bidang pariwisata.
“Oleh karena itu, untuk membangun kepariwisataan yang kokoh, tidak rapuh dan mudah tumbang oleh berbagai isu, harus dicari solusinya,” katanya.
Ia mengatakan, membangun pariwisata memerlukan seni pergaulan yang simpatik, karena rasa simpatik membuat orang senang dan menumbuhkan minat berkunjung ke sebuah objek wisata.
Seni sebagai bagian dari budaya merupakan sesuatu yang menyentuh rasa sehingga rasa itulah yang dijual di bidang pariwisata. Jadi seni dan budaya memiliki korelasi erat dengan pariwisata.
“Dari pemahaman tersebut, pembangunan pariwisata hendaknya melalui seni dan budaya sebagai solusi yang tepat,” katanya. *ant