06 Maret 2010     
Home
Berita Terkini

 

::Gaya Hidup
Bidik Pasar Kelas Atas,Pebutik jangan Latah

Badung (BisnisBali) - Pengusaha butik di Denpasar dan Badung khususnya hampir tak terhitung jumlahnya. Tapi diyakini, dari sekian butik itu tak semua punya nama. Banyak pebutik-pebutik yang merupakan pemain baru. Karena membidik segmen atas, maka sudah seharusnya pebutik-prbutik tak mudah terjerat perilaku latah.

Demikian diungkapkan pengelola butik, Yenli Wijaya, Jumat (5/3) kemarin.

Katanya, jika latah maka selamanya butik itu takkan memiliki kekhasan dalam hasil-hasil karyanya. Jika sudah begini nama besar yang diidam-idamkan pebutik takkan pernah terwujud. Justru akan menjadi bumerang dan menuju kebangkrutan. Begitulah dalam persaingan ketat saat ini.

Dia menilai, pebutik yang andal perlu waktu dan pengorbanan untuk menemukan kekhasan produk yang bisa jadi ikon usaha mereka. Untuk pebutik lokal sudah tentu dituntut mampu mengaplikasikan latar belakang budaya daerah yang dimilikinya, selain kaya inovasi yang diperoleh dari hasil evaluasi dan survai pasar.

Dia menjelaskan, kekhasan produk butik dapat diambil dari unsur-unsur kearifan lokal seperti, berbagai jenis kain tradisional, songket, endek, maupun dengan mengkolaborasikannya dengan jenis-jenis kain modern masa kini. Biasanya pebutik memiliki konsep tersendiri dalam rancangan, sehingga hasil-hasil karyanya memiliki makna untuk meningkatkan harga jualnya.

Kecenderungan produk butik mahal karena memang didesain khusus dan mengedepankan kualitas. Ketika digeber di pasaran dan mendapatkan pengakuan dari para penggemar mode pakaian, maka seorang pebutik tadi akan bisa memiliki nama.

Dia mengharapkan, ke depan walaupun persaingan ketat, pebutik lokal khususnya jangan latah. Latah pada satu hasil karya orang lain takkan berumur panjang. Sebab, tidak mungkin hasil-hasil karya tiruan bisa dijual lebih mahal dari aslinya, sehingga dapat menyebabkan usaha sulit berkembang.

Di tempatnya misalnya, gaun pengantin masa kini, kebaya, gaun pesta, dan pakaian resmi lainnya rata-rata dipasarkan dengan harga rata-rata Rp 650.000 - Rp 1.000.000 untuk kebaya dan berbagai jenis gaun mulai Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per pcs. Banyak lagi jenis kain-kain bermotif khas dengan harga bervariasi pula.

Baginya, tahun 2010 ini, rancangan yang dihasilkan lebih diarahkan untuk kalangan wanita dengan jenis kebaya bernuansa modern bordiran dan brokat. Dengan menonjolkan permainan payet-payet dan warna-warna alami seperti, kuning, emas, unggu, berharap bisa memberikan penyegaran pada selera pasar. *gun

 

BUTIK-Tampak pebisnis butik menawarkan aneka mode kepada konsumen.

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost