06 Maret 2010     
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Manggis Lokal Kalah Saing

Denpasar (BisnisBali) – Buah manggis hasil produksi petani di Bali , sebenarnya cukup diminati di pasar ekspor seperti di Taiwan , Cina dan Singapura. Namun, belakangan ini, buah manggis lokal kalah saing dengan manggis asal Bogor , Jawa Barat.

Manggis asal Bogor kulitnya lebih halus dan harga jualnya lebih murah. Berbeda dengan buah manggis yang dibudidayakan di beberapa daerah di Bali . Dari segi kualitas memang tidak kalah, hanya saja harga dan kehalusan kulitnya memang kalah saing.

Pasalnya, selain kualitas rasa, buah manggis yang masuk kualitas ekspor salah satunya kulit luar buah manggis harus halus (tidak cacat). Ukuran juga menjadi standar utama, tidak terlalu kecil dan tidak besar.

Suplayer buah asal Tabanan, I Made Sianta, Kamis (4/3) lalu mengatakan, beberapa rekanan perusahaan ekspor asal Jawa sudah beberapa bulan terakhir ini tidak lagi mencari buah manggis Bali .

Biasanya, tiap musim panen manggis di Bali selalu memberikan peluang pasar ekspor. Paling tidak memberikan kuota tertentu tergantung pesanan buyer asal negara tujuan ekspor.

“Kami sejak beberapa tahun ini bekerja sama dengan pengusaha ekspor asal Jawa. Pemesanan buah manggis tiap musim panen lumayan banyak, bahkan sampai tidak dapat memenuhi semua permintaan.

Akibat kualitas kulit manggis kurang halus, maka pemesanan tidak dapat terpenuhi. Kalau kualitas rasa, manggis Bali masih menang, hanya saja untuk pasar ekspor, kualitas kulit juga mutlak,” katanya sambil menyinggung, selain kualitas kulit manggis, juga ukuran besar buah menjadi penentu.

Sianta mengakui, harga manggis kualitas ekspor memang lebih mahal dibandingkan harga pasar lokal (domestik). Seperti sekarang ini musim manggis sudah hampir berakhir, harga pasaran sekarang per kilogram berkisaran Rp 8.000 sampai Rp 10.000. Kalau harga kualitas ekspor bisa mencapai Rp 15.000.

“Tetapi sekarang ini harga manggis Bali kalah saing dengan manggis asal Jawa, khususnya manggis asal wilayah Jawa Barat ( Bogor ). Menurut informasi eksportir, sekarang ini banyak manggis dihasilkan daerah tersebut, harganya juga bersaing. Di samping itu, kualitas kulitnya lebih halus dibandingkan buah manggis Bali .

Mengenai kulit manggis, sampai sekarang belum ada obat untuk menghilangkan kulit buah manggis yang kurang halus. Hanya sementara dibantu dengan air hujan. Setiap musim manggis berbuah dan datang hujan, maka diyakini kualitas kulit buah manggis lebih halus,” katanya.

Mengenai kulit buah manggis, salah seorang petani asal Bangli, I Wayan Dira menyebutkan untuk menanggulangi kehalusan kulit buah manggis sampai saat ini memang belum ada obat khusus.

Berbagai usaha sudah dicobanya, tetapi kulit buah manggis yang kurang halus masih tetap saja begitu. Hanya saja, kalau pohon manggis subur dan jarang ada hama , maka kualitas kulit buah manggis akan lebih halus, apalagi datang musim hujan, maka selain buahnya lebih besar juga kulitnya halus.

“Tapi terus terang saja, kami petani manggis tidak bisa menjual dengan harga tinggi. Justru di saat musim panen raya, harga manggis turun. Kalau ada manggis yang diekspor harganya tinggi, itu pada tataran spekulan saja. Sementara harga di tingkat petani tetap rendah. Terjadi kenaikan harga apabila musim manggis sudah berakhir,” katanya.

Sianta menjelaskan, secara umum harga buah-buahan akan terjadi naik turun, tergantung pada stok dan kebutuhan pasar. Apabila stok lagi tipis dan kebutuhan pasar tinggi, maka harganya cukup tinggi. Seperti buah manggis, harga tertinggi bisa mencapai Rp 20.000 per kilogram.

Sementara harga terendah berkisar Rp 2.500. Buah lainnya juga sama, misalnya buah salak harga tertinggi bisa mencapai Rp 15.000 per kilogram, sedangkan harga terrendah bisa Rp 200 per kilogram.

Harga buah durian juga sama, saat produksi melimpah harga jualnya murah sampai Rp 2.000 per kilogram, sementara saat tidak musim harga jualnya sangat mahal sampai Rp 20.000 per kilogram. *sta

 


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost