07 Maret 2009   
Home
Berita Terkini

 

Upakara dan Upacara, Berlandaskan Tiga Kerangka Agama Hindu

Beryadnya dengan mempersembahkan banten tiap hari atau pada hari-hari suci sudah mentradisi di Bali, merupakan pengejawantahan ajaran Weda serta dapat dilaksanakan semua umat.

Pengamalan ajaran agam Hindu dilandasi Tiga Kerangka Agama Hindu yaitu Tattwa, Tata Susila dan Upacara.

Dalam pelaksanaannya, ketiganya harus dilakukan secara bersama-sama. Pembuatan banten dan pelaksanaan upacara jika tidak dilandasi sastra agama, tidak diiringi tata susila maka upacara tidak akan sempurna.

Demikian dijelaskan Dosen Upakara Fakultas Ilmu Agama Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Dra. Ni Wayan Wandri, M.Si., sebagai pembawa materi teknik membuat banten dalam workshop yang dilaksanakan BisnisBali kerja sama dengan Unhi Denpasar, Minggu (8/3) besok bertempat di Wantilan Bali TV Jl. Kebo Iwa 63A Denpasar.

“Upakara berarti bahan-bahan untuk membuat banten dan juga berarti banten sebagai sarana yadnya. Tata cara pelaksanaan yadnya disebut upacara dan dalam upacara dibutuhkan berbagai sarana dan prasarana,” ujarnya.

Secara konseptual, komponen upacara mendekatkan unsur-unsur seni dan budaya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Pembagian banten sangat banyak mulai dari yang paling sederhana hingga banten yang terdiri dari beberapa bagian sehingga terlihat rumit dan kompleks.

Mulai dari bentuk paling sederhana yaitu canang, dibagi lagi menjadi beberapa jenis canang seperti canang genten, canang gantal, canang burat wangi, canang tubungan, canang pawitra, canang sari, canang nyahnyah gringsing, canang pangrawos, canang pasucian, canang yasa, canang rebong, canang oyodan, cane, canang meraka dan lainnya.

Dalam pembuatan canang, penggunaan porosan sangat penting dan tidak boleh dihilangkan porosan merupakan lamban Tri Murti. Sirih sebagai simbul Dewa Wisnu, kapur simbul Dewa Iswara atau Siwa dan pinang simbul Dewa Brahma.

Selain banten, juga dipergunakan kuangen dalam upacara yaitu pada persembahyangan. Kuangen merupakan simbul Ongkara, untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi sebagai Ista Dewata dalam wujud Ardanareswari.

Banten jotan atau saiban merupakan yadnya sehari-hari dengan perlengkapan nasi, garam, sambal serta lauk-pauk yang baru dimasak, dipersembahkan sebelum makan atau setelah memasak. Pelaksanaan saiban dalam Bhagawadgita, bahwa di dunia ini diciptakan Hyang Widhi berdasarkan yadnya maka itu untuk mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan umat hendaknya melaksanakan yadnya.

Untuk segehan, dikenal beberapa jenis segehan yang penggunaannya disesuaikan dengan keperluan dan juga tempat. Masing-masing segehan memiliki cara atau tata cara pembuatan atau pengaturan seperti segehan kepel, segehan mancawarna, segehan cacahan dan segehan agung.

Banten penyucian terdiri dari byakaon, durmanggala dan prayascita sakti. Byakaon dengan perlengkapan pembersihan, isuh-isuh, amel-amel, sasak mentah, sorohan alit, padma, lis pebyakalaan dan penyeneng.

Penyucian durmanggala dipergunakan bila ada kerusakan besar yang disebabkan Panca Maha Bhuta seperti rumah terbakar, banjir lumpu, gempa bumi, angin kencang, ada kelainan yang umbuh pada tempat tinggal, tempat suci, sawah atau lading. Banten ini juga digunakan pada tingkatan caru dan padudusan.

Prayascita sakti digunakan pada upacara pembersihan bangunan yang baru selesai, diperbaiki, piodalan setelah cuntaka kematian atau melahirkan.

Banten Pejati
Baten Penjati berfungsi sebagai sarana permakluman atau pernyataan akan suatu hal, misalnya akan melaksanakan suatu yadnya atau membuka suatu usaha. Banten Pejati ini terdiri dari daksina, peras, sodan atau ajuman, tipat kelanan, pesucian dilengkapi dengan canang dan segehan. Dilengkapi juga dengan penyeneng.*rya


 

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost