10 Februari 2009  
Home
Berita Terkini

 

Panti pijat yang menawarkan layanan plus bagi pelanggan bukan hal baru di Denpasar dan sekitarnya.

Keberadaan panti-panti pijat plus ini memang sudah lama eksis bahkan disinyalir kian marak.

Untuk membedakannya dengan panti pijat biasa memang sangat sulit, namun keberadaannya sangat mudah untuk ditelusuri. Bagaimana lika-liku panti pijat plus tersebut? Berikut laporan BisnisBali.

UNTUK membedakan mana panti pijat biasa dangan panti pijat plus sangat sulit. Umumnya usaha panti pijat tidak secara jor-joran menawarkan layanan pijat plus kepada konsumen.

Tidak semua panti pijat tersebut juga ada pelayanan plusnya. Pengguna jasa panti pijat juga biasanya mempunyai tujuan berbeda-beda.

Ada yang benar-benar ingin pijat dengan tujuan menghilangkan letih serta relaksasi, namun ada pula yang datang ke panti pijat dengan tujuan tertentu misalnya minta layanan plus. Namun yang pasti, pijat plus telah menjadi salah satu gaya hidup warga di kota seperti halnya Denpasar.

Situasi layanan plus tersebut sangat tergantung kepada permintaan pelanggan. Jika tak ada permintaan layanan plus dari pelanggan, tentu mereka tak akan menyediakan layanan plus.

Untuk mengetahui usaha panti pijat yang menawarkan pijat plus tidaklah sulit. Informasi bisa kita dapatkan dari mulut ke mulut atau langsung mendatangi usaha panti pijat yang disinyalir menawarkan layanan plus.

Ketika BisnisBali melakukan penelusuran ke sebuah usaha panti pijat yang berlokasi di seputaran By Pass Ngurah Rai, panti pijat tersebut tidak terkesan seperti panti pijat yang menawarkan layanan plus. Ketika memasuki tempat itu, dua orang resepsionis cantik menyapa dengan ramah pengunjung yang datang ke tempat itu.

Sambutan mereka seperti layaknya resepsionis hotel maupun restoran. Dengan senyum dan wajah cantik, resepsionis itu mampu menggoda dan menarik minat pengunjung.

Selanjutnya mereka akan menyodorkan beberapa album berisi foto cewek terapis atau tukang pijatnya. Ada puluhan foto cewek yang ada di album tersebut yang tinggal kita pilih.

“Silakan dipilih pak, mau yang mana,” begitu ucapan yang keluar dari bibir tipis mereka. Setelah memilih, si pemijat akan dipanggil serta bersama-sama masuk ke ruangan pemijatan.

Ruangan panti pijat di sana terkesan dibuat agak remang-remang dengan lampu berwarna biru dan wangi aromaterapi yang tercium harum.

Ketika berada di ruang pijat, Anda akan diberikan semacam celana menyerupai celana boxer atau biasa mereka sebut dengan celana tisu, sebab sangat tipis serta terlihat transparan.

Untuk mendapatkan layanan plus, si pemijat memang tidak menawarkanya secara langsung, namun tergantung inisiatif pelanggan. Jika pelanggan meminta maka akan mendapat respons dari si pemijat dengan mengatakan tergantung bayaran serta kesepakatan.

Seorang pemijat, sebut saja Ayu (30 tahun), bukan nama sebenarnya, mengaku berasal dari Jawa dan baru satu tahun berada di Bali. Awal kedatangannya ke Bali untuk mengubah nasib serta mencari pekerjaan.

Karena lahan pekerjan minim, akhirnya ia terdampar di salah satu tempat pijat yang menjadi tempatnya bekerja hingga saat ini. “Sangat sulit mencari pekerjaan mas. Saya hanya tamatan SMP dan mencoba mengadu nasib di sini dan hanya ini pekerjaan yang saya peroleh,” ujarnya.

Untuk menambah penghasilannya, jika diminta, ia tidak menolak memberikan layanan tambahan jika sesuai dengan harga yang disepakati dengan tamunya.

“Pada mulanya memang bertentangan dengan hati nurani. Namun, karena tuntutan hidup, lama kelamaan akhirnya saya menjadi terbiasa,” ujarnya.

Umunya, tarif pijat biasa yang dikenakan di tempatnya berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu untuk yang ber-AC. Namun jika ditambah dengan plusnya, Anda harus merogoh kocek Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu.
“Jika ingin layanan plus, tentu tarifnya akan lebih besar. Ini sangat tergantung pada negosiasi,” imbuhnya. *dwi


ket foto; KAMAR PIJAT – Tampak ruangan atau kamar untuk pemijatan di salah satu panti pijat di Denpasar. Kamar pemijatan tersebut sengaja dibuat remang, sehingga negosiasi untuk pijat plus bisa berlangsung.

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost