24 September 2008  
Home
Berita Terkini

 

Pasar Hewan Beringkit Jual Sapi, Pendapatan Rp 4 M
Letak strategis yang dikelilingi beberapa kabupaten/kota di Bali menjadikan Pasar Beringkit pusat pemasaran hewan di Bali.

Sejak beroperasi mulai 1970-an, pasar hewan Beringkit ini masih eksis memasarkan berbagai macam hewan mulai sapi (unggulan), ayam, itik termasuk anjing kintamani. Bagaimana dengan pendapatannya? Berikut penelusuran BisnisBali.

DIRUT Perusahaan Daerah (PD) Pasar Kabupaten Badung, I Ketut Widiana Karya, S.E., MBA mengatakan, penjualan sapi di Pasar Beringkit sudah berlangsung sejak tahun 1970-an. Awalnya, areal kawasan pasar berkisar 25 are. Tahun 1980-an, areal pasar diperluas ke utara dengan tambahan areal sekitar 1 hektar.

Dengan adanya pemekaran desa adat, saat ini Pasar Umum Beringkit masuk dalam kawasan Desa Beringkit. Sementara kawasan Pasar Hewan Beringkit masuk dalam wilayah Desa Mengwitani. Walaupun masuk dalam kawasan Desa Mengwitani, pasar hewan di Kabupaten Badung ini tetap diberi nama Pasar Hewan Beringkit.

Sejak tahun 1970-an Pasar Hewan Beringkit sudah mulai dikenal sebagai pasar hewan. Peternak dan pengepul sapi dari seluruh Bali tidak hanya memasarkan sapi potong tetapi juga memasarkan sapi bibit (anakan sapi untuk induk dan bibit sapi untuk pengemukan).

Pada umumnya peternak dan pengepul sapi menjual sapi di Pasar Beringkit selanjutnya membeli bibit sapi untuk dipelihara kembali. Banyak sapi yang dipasarkan, tentu peternak bisa dengan mudah memilih bibit sapi induk maupun bibit sapi penggemukan.

Dipaparkannya, banyak keuntungan ekonomi yang bisa didapatkan peternak maupun pengepul sapi di Pasar Beringkit. Dengan menjual sapi, peternak bisa memperolah dana untuk menyekolahkan anak.

Dari hasil penjualan sapi, peternak bisa membeli produk agrobisnis seperti tanaman hias termasuk produk agrobisnis seperti (cangkul, sabit dan keperluan alat pertanian lainnya.

Mungkin bagi peternak yang tertarik, mereka bisa memanfaatkan hasil penjualan sapi untuk membeli sanggah atau kendaraan bermotor karena di tempat ini juga mulai banyak didirikan diler-diler motor. Sering terdengar, ke Beringkit jual sapi, pulangnya bawa motor.

Widiana Karya menjelaskan, guna menjaga eksistensi pasar hewan Beringkit, PD Pasar Kabupaten Badung melakukan upaya menggalakkan aktivitas Pasar Beringkit.

Salah satunya, di luar hari pasaran (Rabu dan Minggu) akan diselenggarakan lomba/kontes hewan seperti burung. Ini paling tidak bisa meningkatkan pendapatan dari parkir. Di sisi lain, seputar Pasar Beringkit akan disiapkan lahan untuk pemasangan papan iklan untuk menambah pendapatan PD Pasar.

Di sisi lain, PD Pasar akan mencoba mengintensifkan penjualan kambing terutama menjelang hari besar seperti Lebaran dan Idul Adha. Sementara untuk pengolahan kotoran sapi di Pasar Beringkit, PD Pasar sudah menjajaki dengan pangusaha seperti UD Gunung Mas sehingga bisa memproduksi pupuk organik.

Peningkatan prasaran parkir, fasilitas kandang, timbangan dan pembinaan SDM. Sampai saat ini belum ada karyawan yang terbukti mempermainkan timbangan termasuk kegiatan yang merugikan perusahaan pasar maupun pengguna/konsumen pasar. Untuk menjaring minat peternak sapi di Bali, PD Pasar sudah merancang pemberian kupon berhadiah untuk setiap penjualan sapi.

Kepala Unit Pasar Hewan Beringkit, I Ketut Nurada seizin Direktur PD Pasar Kabupaten Badung mengatakan, pengguna kawasan pasar hewan Beringkit didominasi pengepul, penjagal, pengusaha sapi antarpulau (yang lebih dikenal eksportir) dan peternak sapi di Bali.

Transaksi jual-beli sapi pasar Beringkit memberikan pendapatan bagi pasar hewan Beringkit meliputi bea/cukai masuk, bea balik nama, bea pemeriksaan dan biaya sewa inap (sewa kandang) dan pendapatan lainnya.

Nurada menjelaskan, proses jual beli sapi di Pasar Beringkit mesti melalui beberapa tahapan. Sapi yang masuk diwajibkan mengantongi surat tanda kepemilikan sapi dari masing-masing kepala desa tempat asal pemilik sapi.

Sapi bibit ataupun sapi potong yang masuk tahun 2008 dikenakan biaya/bea masuk Rp 7.200/ekor untuk biaya masuk dan Rp 300/ekor untuk biaya pemeriksaan kesehatan hewan dan Rp 19.000 bea balik nama.

Setelah terjadi transaksi ini, penjagal atau eksportir wajib mengurus surat jual beli sapi di loket pasar hewan beringkit. Setiap ekor sapi yang telah dibeli dikenakan Rp 19.000/ekor untuk bea balik nama (dalam surat jual beli sapi tersebut). Setelah mengantongi surat jual beli sapi, sapi yang telah dibeli tersebut selanjutnya ditimbang dan dijual sesuai harga pasar.

Nurada memaparkan pengelola pasar hewan Beringkit juga menawarkan jasa sewa tempat inap. Biaya sewa inap ini dikenakan Rp 3.000/ekor. Bagi eksportir dan penjagal yang tidak mendapatkan angkutan bisa memanfaatkan kandang yang disediakan sebanyak 7 kandang (satu kandang mampu menampung 26-50 sapi).

Sapi yang masuk ke Pasar Beringkit setiap pasaran (Rabu/Minggu) dikalkulasikan pada kisaran 1.200 ekor-2.000 ekor per pasaran. Pada tahun 2007, pasar hewan Beringkit telah mengantongi pendapatan keseluruhan dari transaksi sapi, itik, ayam, anjing, tanaman hias dan pendapatan lainnya mencapai Rp 3.908.881.307. Tahun 2008 ini pasar hewan Beringkit menargetkan pendapatan keseluruhan di atas Rp 4 milyar. *kup


Data pendapatan Pasar hewan Bringkit dari Transakasi jual beli sapi di Pasar Bringkit
Data nama item pendapatan 2007(Rp) Agustus 2008
Pendapatan bea masuk (selama pasaran) 1.116.892.800 83.368.800
Pendapatan bea masuk (luar waktu pasaran) 116.070.000 17.400.000
Pendapatan bea balik nama (pasaran) 2.267.258.000 186.599.000
Pendapatan bea balik nama (diluar pasaran) 211.784.000 40.527.000
Pendapatan bea pemeriksaan 46.537.200 3.473.700
Pendapatan sewa inap 1.806.000 171.000

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost