Rencana
Pemerintah Kota (Pemkot)Denpasar menyediakan shuttle bus yang
melalui areal kawasan objek wisata di Denpasar merupakan salah
satu gebrakan yang jitu untuk menggaet wisatawan.
Bagus Soediana melihat masyarakat termasuk pelaku pariwisata
patut mendukung program pemerintah tersebut untuk menggairahkan
sektor pariwisata khususnya di Kota Denpasar.
Pria kelahiran Amlapura 9 Agustus 1953 ini mengatakan objek
wisata di Kota Denpasar memang perlu mendapatkan sentuhan
promosi. Dalam upaya mengenal objek wisata di Denpasar, Pemkot
Denpasar perlu memberikan kemudahan-kemudahan yang bisa menarik
wisatawan.
Salah satunya pemerintah perlu menyiapkan kendaraan shuttle
bus bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang ingin berkeliling
di Kota Denpasar.
Dijelaskan, peluncuran shuttle bus ini tentunya mesti melalui
tahap pengenalan.
Untuk tahap awal, shuttle bus ini mesti ditawarkan secara
gratis sebagai rangsangan bagi wisatawan menggunakan armada
tersebut. Ke depan, untuk meningkatkan pendapatan daerah,
pengelola shuttle bus ini bisa mengarah ke tujuan yang lebih
ekonomis.
Dari sisi pemasaran, promosi shuttle bus gratis untuk wisman
(rangkaian kegiatan pengenalan objek wisata di Denpasar) tidak
terlalu menyimpang dari strategi pemasaran.
Ini tidak beda jauh dengan upaya biro perjalan wisata (BPW)
di Bali melakukan promosi ke luar negeri dengan memberikan
diskon tarif penerbangan, diskon tarif akomodasi termasuk
diskon tarif paket wisata.
Diskon tarif tersebut hanya berlaku untuk pengelola BPW (BPW
di luar negeri) yang membawa wisatawan ke Bali. Intinya juga
upaya pengenalan dan menggaet wisatawan lebih banyak ke Bali.
Suami Putu Mas Sunita ini menilai penawaran shuttle bus gratis
untuk wisman di Denpasar masih batas yang wajar. Hal ini murni
untuk pengenalan potensi dan objek wisata khususnya di Kota
Denpasar. “Bila objek wisata di Kota Denpasar tak dikenal
maka sulit akan dikunjungi oleh wisatawan,” ucapnya.
Bapak 3 anak ini memastikan penawaran shuttle bus gratis akan
munculkan banyak kritikan dari beberapa kalangan. Bahkan,
akan muncul pandangan negatif shuttle bus tersebut akan dikira
proyek buang-buang uang. Pemerintah kota perlu membuka wawasan
masyarakat akan pentingnya upaya promosi.
Perlu ada keyakinan bahwa dengan promosi tersebut selanjutnya
masyarakat akan diuntungkan dengan bangkitnya sektor pariwisata
di Kota Denpasar.
Pengelolaan shuttle bus gratis ini tentunya perlu dilaksanakan
dengan perencanaan yang matang. Jika objek wisata di Kota
Denpasar belum banyak dikunjungi wisatawan maka promosi dengan
shuttle gratis perlu dilanjutkan kembali. Sebaliknya, jika
pengunjung membludak (ramai), pengelola shuttle bus ini bisa
mengenakan biaya/ongkos angkut.
Ketua Persatuan Angkutan Wisata Bali (Pawiba) mengakui pengelola
shuttle bus di Denpasar bisa saja mencontoh pengelolaan komotra
di Kuta. Wisatawan di Denpasar bisa diajak berkeliling dengan
rute dan waktu yang jelas.
Ia memastikan anggota pawiba tidak akan khawatir dengan adanya
kendaraan shuttle bus di kawasan Kota Denpasar. Kendaraan
tersebut memiliki segmen pasar tersendiri dan hanya mengunjungi
objek wisata yang jumlahnya terbatas.
Sama halnya dengan kendaraan shuttle di Nusa Dua yang khusus
digunakan untuk tranportasi di seputar kawasan Nusa Dua. Sementara
kendaraan angkutan pariwisata (di bawah pawiba) tetap melayani
kegiatan tour keliling Bali.*kup
|