Denpasar (BisnisBali) – Sejumlah
petani hingga kini masih berorientasi pada peningkatan produksi
buah. Padahal hal ini kurang banyak membantu, karena tanpa
adanya perbaikan kualitas produksi secara terus menurus
akan sukar bagi petani lokal untuk merebut pasar yang masih
didominasi produk sejenis dari komoditi impor.
“Kualitas produksi yang baik selalu menjadi daya tarik
bagi masyarakat atau calon konsumen, tidak terkecuali pada
komoditi buah,” tutur Bambang Heriawan, salah satu
suplayer buah di Denpasar, Minggu (21/9) kemarin.
Itu sebabnya sebagian besar masyarakat masih berorientasi
untuk permintaan buah pada jenis impor yang memang tidak
saja baik dari segi rasa, namun juga baik dari segi tampilan
buah. Hal ini diperburuk lagi dengan kondisi, produksi buah
dari negara pesaing yang jumlahnya cukup melimpah dengan
harga bersaing di pasaran.
Jelas Bambang, sebenarnya transaksi buah lokal ini dikalangan
masyarakat bisa didongkrak, asalkan buah lokal ini mesti
bermutu tinggi dan berskala besar.
Katanya, selama ini ada kecenderungan di kalangan petani
yang kurang memperhatikan kualitas produksi. Contoh saja
pada tahapan pemanenan, menurutnya sering kali terjadi karena
alasan biaya hidup, sejumlah petani akhirnya memanen buahnya
lebih awal dari waktu yang seharusnya.
Hal sama juga terjadi pada penggunaan bibit yang secara
umum petani lokal masih awam, sehingga bibit yang dibudidayakan
tidak mengalami kemajuan.
“Seharusnya ada kerja sama bagus, antara petani dan
dunia penelitian, sehingga menghasilkan produk-produk hasil
riset yang sifatnya ke arah perbaikan kualitas,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Komang Wijaya, pengelola toko
buah. Kata dia, saat ini produksi buah lokal belum memenuhi
syarat 3 K, yaitu: kualitas, kuantitas dan kontinuitas.
Masyarakat ingin bisa makan durian tiap saat, tidak hanya
pada musim durian saja. Begitu juga untuk jenis buah lainnya,
sehingga itu sebabnya permintaan pasar akan buah lokal ini
akhirnya dialihkan pada jenis impor.
Mencapai syarat 3 K ini, lanjutnya, bisa saja terpenuhi
yaitu dengan rekayasa lokasi dan waktu panen. Maksudnya,
waktu panen antara satu daerah dengan daerah lainnya diatur
agar tidak bersamaan, sehingga pasokan buah lokal tetap
ada dan harga juga tidak anjlok saat panen.
”Bila ini dipenuhi bukan tidak mungkin masyarakat
akan mengutamakan produksi lokal. Apa lagi masyarakat memang
mulai sadar untuk menggunakan produk lokal,” tandasnya.
*man
|