22 September 2008  
Home
Berita Terkini

 

::Potensi
Kualitas Digarap, Pasar Buah Lokal makin Terbuka

Denpasar (BisnisBali) – Sejumlah petani hingga kini masih berorientasi pada peningkatan produksi buah. Padahal hal ini kurang banyak membantu, karena tanpa adanya perbaikan kualitas produksi secara terus menurus akan sukar bagi petani lokal untuk merebut pasar yang masih didominasi produk sejenis dari komoditi impor.

“Kualitas produksi yang baik selalu menjadi daya tarik bagi masyarakat atau calon konsumen, tidak terkecuali pada komoditi buah,” tutur Bambang Heriawan, salah satu suplayer buah di Denpasar, Minggu (21/9) kemarin.

Itu sebabnya sebagian besar masyarakat masih berorientasi untuk permintaan buah pada jenis impor yang memang tidak saja baik dari segi rasa, namun juga baik dari segi tampilan buah. Hal ini diperburuk lagi dengan kondisi, produksi buah dari negara pesaing yang jumlahnya cukup melimpah dengan harga bersaing di pasaran.

Jelas Bambang, sebenarnya transaksi buah lokal ini dikalangan masyarakat bisa didongkrak, asalkan buah lokal ini mesti bermutu tinggi dan berskala besar.

Katanya, selama ini ada kecenderungan di kalangan petani yang kurang memperhatikan kualitas produksi. Contoh saja pada tahapan pemanenan, menurutnya sering kali terjadi karena alasan biaya hidup, sejumlah petani akhirnya memanen buahnya lebih awal dari waktu yang seharusnya.

Hal sama juga terjadi pada penggunaan bibit yang secara umum petani lokal masih awam, sehingga bibit yang dibudidayakan tidak mengalami kemajuan.

“Seharusnya ada kerja sama bagus, antara petani dan dunia penelitian, sehingga menghasilkan produk-produk hasil riset yang sifatnya ke arah perbaikan kualitas,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Komang Wijaya, pengelola toko buah. Kata dia, saat ini produksi buah lokal belum memenuhi syarat 3 K, yaitu: kualitas, kuantitas dan kontinuitas.

Masyarakat ingin bisa makan durian tiap saat, tidak hanya pada musim durian saja. Begitu juga untuk jenis buah lainnya, sehingga itu sebabnya permintaan pasar akan buah lokal ini akhirnya dialihkan pada jenis impor.

Mencapai syarat 3 K ini, lanjutnya, bisa saja terpenuhi yaitu dengan rekayasa lokasi dan waktu panen. Maksudnya, waktu panen antara satu daerah dengan daerah lainnya diatur agar tidak bersamaan, sehingga pasokan buah lokal tetap ada dan harga juga tidak anjlok saat panen.

”Bila ini dipenuhi bukan tidak mungkin masyarakat akan mengutamakan produksi lokal. Apa lagi masyarakat memang mulai sadar untuk menggunakan produk lokal,” tandasnya. *man

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost