Denpasar
(BisnisBali) - Koperasi Krama Bali (KKB) menyelenggarakan
Temu Usaha dan Bisnis di Gedung PWI, Sabtu (20/9) lalu.
Acara tersebut menampilkan sejumlah pembicara dari KKB dan
Bank Mandiri.
Temu bisnis yang dihadiri pebisnis dan mahasiswa tersebut
dibuka langsung Ketua KKB Satria Naradha.
"Ada sekitar Rp 11 trilyun dana perbankan di Bali masih
mengendap di bank," ujar Satria Naradha. Dikatakan dana
masyarakat yang diserap perbankan di Bali saat ini mencapai
Rp 25,9 trilyun.
Kredit yang disalurkan perbankan baru sekitar Rp 14,8 trilyun.
Ini artinya intermediasi perbankan masih rendah, loan to deposit
ratio (LDR) perbankan saat ini hanya sekitar 57 persen dengan
total aset perbankan di Bali mencapai lebih dari Rp 30 trilyun.
Salah satu faktor kecilnya penyerapan dana perbankan ini akibat
kemampuan dan akses UMKM sangat kurang. Menurutnya, seminar
temu bisnis seperti ini sangat penting dan positif agar UMKM
bisa menyusun proposal kredit. Selama ini banyak usaha kecil
yang mengalami kesulitan untuk mendapat dana perbankan karena
tidak bisa menyusun proposal kredit.
"Kita harapkan pengusaha bisa membuat proposal kredit
untuk diajukan ke perbankan," ujarnya. IB Teddy Prianthara
pembicara dalam seminar tersebut memaparkan pentingnya proposal
untuk mendapatkan kredit perbankan.
"Tanpa proposal tidak mungkin bank mau memberikan kredit
kepada sektor usaha," ungkapnya. Menurutnya, sebagian
besar pengusaha kecil kesulitan untuk menyusun proposal karena
keterbatasan kemampuan SDM.
Pria yang juga sebagai konsultan bisnis di sejumlah perusahaan
besar tersebut menyatakan, UMKM di Bali sebagian besar tidak
memiliki manajemen yang bagus. Mereka tidak memiliki pembukuan
sebagai pelaporan. "Ketika mau menyusun proposal, mereka
tidak bisa memberikan laporan pembukuan," imbuhnya.
Dijelaskan, ada 5 unsur dalam penyusunan sebuah proposal kredit
yang dijadikan pertimbangan oleh pihak perbankan yang disebut
dengan 5C yakni character, capacity, capital, colateral dan
condition. "Ini merupakan pertimbangan penting yang harus
diperhatikan," imbuhnya.
Hal yang tidak kalah penting yang harus dilakukan oleh UMKM
dalam menyusul proposal adalah kejujuran. Dalam penyusunan
proposal, kita harus jujur, terutama dalam penggunaan dana
yang diberikan oleh bank.
"Jika itu untuk usaha, gunakan dana tersebut untuk usaha
jangan untuk yang lain. Ini adalah salah satu etika bisnis
yang mendasari penyusunan proposal," tegasnya.
Senior Manager Bank Mandiri di Small Busines Distric Centre
Denpasar Arif Hendarno menyatakan, pihak perbankan memberikan
ruang yang cukup luas kepada sektor usaha kecil.
Dia menyatakan syarat kredit untuk UMKM tidak serumit perusahaan
besar. "Asal ada surat keterangan dari kepala desa,"
imbuhnya. Namun ia mengakui pihaknya sangat hati-hati dalam
memberikan kredit. *wid