22 September 2008  
Home
Berita Terkini

 

Rp 11 T Dana Perbankan di Bali masih ”Nganggur”
Denpasar (BisnisBali) - Koperasi Krama Bali (KKB) menyelenggarakan Temu Usaha dan Bisnis di Gedung PWI, Sabtu (20/9) lalu.

Acara tersebut menampilkan sejumlah pembicara dari KKB dan Bank Mandiri.

Temu bisnis yang dihadiri pebisnis dan mahasiswa tersebut dibuka langsung Ketua KKB Satria Naradha.

"Ada sekitar Rp 11 trilyun dana perbankan di Bali masih mengendap di bank," ujar Satria Naradha. Dikatakan dana masyarakat yang diserap perbankan di Bali saat ini mencapai Rp 25,9 trilyun.

Kredit yang disalurkan perbankan baru sekitar Rp 14,8 trilyun. Ini artinya intermediasi perbankan masih rendah, loan to deposit ratio (LDR) perbankan saat ini hanya sekitar 57 persen dengan total aset perbankan di Bali mencapai lebih dari Rp 30 trilyun.

Salah satu faktor kecilnya penyerapan dana perbankan ini akibat kemampuan dan akses UMKM sangat kurang. Menurutnya, seminar temu bisnis seperti ini sangat penting dan positif agar UMKM bisa menyusun proposal kredit. Selama ini banyak usaha kecil yang mengalami kesulitan untuk mendapat dana perbankan karena tidak bisa menyusun proposal kredit.

"Kita harapkan pengusaha bisa membuat proposal kredit untuk diajukan ke perbankan," ujarnya. IB Teddy Prianthara pembicara dalam seminar tersebut memaparkan pentingnya proposal untuk mendapatkan kredit perbankan.

"Tanpa proposal tidak mungkin bank mau memberikan kredit kepada sektor usaha," ungkapnya. Menurutnya, sebagian besar pengusaha kecil kesulitan untuk menyusun proposal karena keterbatasan kemampuan SDM.

Pria yang juga sebagai konsultan bisnis di sejumlah perusahaan besar tersebut menyatakan, UMKM di Bali sebagian besar tidak memiliki manajemen yang bagus. Mereka tidak memiliki pembukuan sebagai pelaporan. "Ketika mau menyusun proposal, mereka tidak bisa memberikan laporan pembukuan," imbuhnya.

Dijelaskan, ada 5 unsur dalam penyusunan sebuah proposal kredit yang dijadikan pertimbangan oleh pihak perbankan yang disebut dengan 5C yakni character, capacity, capital, colateral dan condition. "Ini merupakan pertimbangan penting yang harus diperhatikan," imbuhnya.

Hal yang tidak kalah penting yang harus dilakukan oleh UMKM dalam menyusul proposal adalah kejujuran. Dalam penyusunan proposal, kita harus jujur, terutama dalam penggunaan dana yang diberikan oleh bank.

"Jika itu untuk usaha, gunakan dana tersebut untuk usaha jangan untuk yang lain. Ini adalah salah satu etika bisnis yang mendasari penyusunan proposal," tegasnya.

Senior Manager Bank Mandiri di Small Busines Distric Centre Denpasar Arif Hendarno menyatakan, pihak perbankan memberikan ruang yang cukup luas kepada sektor usaha kecil.

Dia menyatakan syarat kredit untuk UMKM tidak serumit perusahaan besar. "Asal ada surat keterangan dari kepala desa," imbuhnya. Namun ia mengakui pihaknya sangat hati-hati dalam memberikan kredit. *wid

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost