PENGGUNAAN bahan tambahan makanan (BTM) berbahaya
tidak selalu dilakukan dengan kesadaran atau kesengajaan.
Kadangkala ketidaktahuan pebisnis akan kandungan dalam BTM
menyebabkan unsur berbahaya ini masih digunakan.
Sebut saja beleng yang merupakan bahan baku utama untuk membuat
kerupuk atau gorengan agar mau mengembang. Dari hasil penelitian
Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM), beleng ini
mengandung borax yang tidak direkomendasikan sebagai bahan
campuran makanan karena mengandung zat berbahaya.
Namun karena ketidaktahuan pebisnis khususnya yang berskala
tradisional, bahan baku beleng ini masih digunakan hingga
kini. Itu dikuatkan dengan data yang ditemukan oleh BBPOM
per 22 Juli 2008. Dari 27 sempel makanan kudapan termasuk
di dalamnya kerupuk dan gorengan, 17 sempel makanan bebas
dari kandungan ALT, MPN dan borax, sedangkan 10 sampel positif
mengandung ALT, MPN dan borax.
Dari 10 sampel tersebut sebagian besar merupakan hasil olahan
yang merupakan dari industri rumah tangga lokal dengan dikelola
secara tradisional.
Sementara gorengan atau kerupuk telah dilengkapi registrasi
yang notabene merupakan hasil produksi dikelola sekala pabrikan
hasilnya nihil mengandung unsur berbahaya.
Salah satu pedagang beleng di Denpasar yang tidak mau disebutkan
namanya mengungkapkan, beleng memang banyak dicari dan jadi
salah satu produk yang sedari dulu digunakan pebisnis kerupuk
sekala rumah tangga sebagai campuran bahan baku agar mau mengembang.
Saking banyaknya permintaan di pasaran, beleng ini ada dua
versi, katagori asli dan palsu. Namun untuk yang asli harga
di pasaran ditawarkan Rp 9.000 per bungkus.
“Biasanya beleng ini digunakan untuk membuat kerupuk
yang bahan bakunya terbuat dari tepung beras, sedangkan untuk
yang menggunakan bahan baku dari daging, tidak menggunakan
beleng,” tuturnya.
Lanjutnya, adapun bahan baku yang terkandung dari beleng ini
rata-rata dari konsumen maupun pedagang sendiri kurang memahami.
Sebagian besar terutama dari konsumen tidak menyadari bahwa
borax yang menjadi bahan baku berbahaya yang tidak direkomendasikan
BBPOM untuk makanan juga terdapat dalam beleng.
Itu pula sebabnya, pebisnis kerupuk tradisional yang notabene
kurang memahami kandungan-kandungan berbahaya dalam bahan
baku menjadi melakukan kesalahan ini dengan tanpa sengaja
karena memang sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.
Alit Nurdewi, salah satu konsumen mengungkapkan, fenomena
ini membuktikan memang masih rendahnya pengetahuan masyarakat
soal mutu dan keamanan pangan. Dengan begitu, kasus penggunaan
BTM berbahaya dalam makanan marak saat ini. *man