22 September 2008  
Home
Berita Terkini

 

::Boga
PENGGUNAAN bahan tambahan makanan (BTM) berbahaya tidak selalu dilakukan dengan kesadaran atau kesengajaan. Kadangkala ketidaktahuan pebisnis akan kandungan dalam BTM menyebabkan unsur berbahaya ini masih digunakan.

Sebut saja beleng yang merupakan bahan baku utama untuk membuat kerupuk atau gorengan agar mau mengembang. Dari hasil penelitian Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM), beleng ini mengandung borax yang tidak direkomendasikan sebagai bahan campuran makanan karena mengandung zat berbahaya.

Namun karena ketidaktahuan pebisnis khususnya yang berskala tradisional, bahan baku beleng ini masih digunakan hingga kini. Itu dikuatkan dengan data yang ditemukan oleh BBPOM per 22 Juli 2008. Dari 27 sempel makanan kudapan termasuk di dalamnya kerupuk dan gorengan, 17 sempel makanan bebas dari kandungan ALT, MPN dan borax, sedangkan 10 sampel positif mengandung ALT, MPN dan borax.

Dari 10 sampel tersebut sebagian besar merupakan hasil olahan yang merupakan dari industri rumah tangga lokal dengan dikelola secara tradisional.

Sementara gorengan atau kerupuk telah dilengkapi registrasi yang notabene merupakan hasil produksi dikelola sekala pabrikan hasilnya nihil mengandung unsur berbahaya.

Salah satu pedagang beleng di Denpasar yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan, beleng memang banyak dicari dan jadi salah satu produk yang sedari dulu digunakan pebisnis kerupuk sekala rumah tangga sebagai campuran bahan baku agar mau mengembang.

Saking banyaknya permintaan di pasaran, beleng ini ada dua versi, katagori asli dan palsu. Namun untuk yang asli harga di pasaran ditawarkan Rp 9.000 per bungkus.

“Biasanya beleng ini digunakan untuk membuat kerupuk yang bahan bakunya terbuat dari tepung beras, sedangkan untuk yang menggunakan bahan baku dari daging, tidak menggunakan beleng,” tuturnya.

Lanjutnya, adapun bahan baku yang terkandung dari beleng ini rata-rata dari konsumen maupun pedagang sendiri kurang memahami. Sebagian besar terutama dari konsumen tidak menyadari bahwa borax yang menjadi bahan baku berbahaya yang tidak direkomendasikan BBPOM untuk makanan juga terdapat dalam beleng.

Itu pula sebabnya, pebisnis kerupuk tradisional yang notabene kurang memahami kandungan-kandungan berbahaya dalam bahan baku menjadi melakukan kesalahan ini dengan tanpa sengaja karena memang sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.

Alit Nurdewi, salah satu konsumen mengungkapkan, fenomena ini membuktikan memang masih rendahnya pengetahuan masyarakat soal mutu dan keamanan pangan. Dengan begitu, kasus penggunaan BTM berbahaya dalam makanan marak saat ini. *man


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost