Bangli (BisnisBali) - Bangli hingga kini masih menjadi
salah satu produsen kopi cukup besar di Bali. Bahkan kopi
Bangli khususnya kopi arabika Kintamani saat ini makin dikenal
dunia lantaran memiliki cita rasa yang khas yakni rasa jeruk.
‘’Tidak ada kopi yang memiliki cita rasa seperti
ini,’’ ungkap Bupati Bangli I Nengah Arnawa belum
lama ini.
Menurut Bupati Arnawa, cita rasa kopi arabika Kintamani yang
sangat khas ini memang menjadikan produk kopi ini mampu menembus
pasar sejumlah negara Eropa seperti Jerman dan Francis. Bukan
itu saja, kopi rasa jeruk Kintamani juga mulai dilirik pasaran
di Jepang dan Korea.
Lebih lanjut Bupati Arnawa mengemukakan, selain memiliki cita
rasa yang khas, keberhasilan petani kopi Kintamani menembus
pasar luar negeri juga disebabkan oleh pengolahan pascapanen
yang kualitasnya dijaga sangat ketat yakni melalui petik merah
dan olah basah.
‘’Dengan sistem petik merah, hanya biji yang berkualitas
baik yang dihasilkan petani. Ini memang menjadi tuntutan pasar
luar negeri yang dikenal sangat fanatik dengan kualitas produksi
perkebunan,’’ imbuhnya.
Selain itu, lanjut Bupati, pengolahan tanaman kopi di Kintamani
menggunakan pupuk organik sehingga terbebas dari zat-zat berbahaya
untuk tubuh.
’’Pasar luar negeri juga mempertimbangkan penggunaan
zat berbahaya dalam pengolahan produk pertanian. Kopi arabika
Kintamani memang terbebas dari penggunaan zat kimia. Petani
menggunakan pupuk organik,’’ tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Perhutanan
Bangli Ir. I Ketut Sutrisna mengakui, cita rasa khas kopi
Kintamani telah memberikan inspirasi bagi Pemkab Bangli untuk
mendaftarkan kopi Kintamani ke Badan HaKI. Penilaian objektif
telah dilakukan, diperkirakan Desember kopi Kintamani telah
memiliki hak paten,’’ ungkap Sutrisna.
Menurutnya, dengan berbagai penyuluhan yang dilakukan oleh
Dinas P3 Bangli ternyata kesadaran petani kopi di Kintamani
untuk menjaga kualitas produksi mereka makin meningkat. Apalagi
saat ini di kawasan Kintamani telah berdiri pabrik pengolahan
kopi.
‘’Petani tetap konsisten untuk menjaga kualitas
produk mereka dengan sistem petik merah dan olah basah,’’
tegas Sutrisna. Sejalan dengan makin membaiknya harga kopi
di pasaran, dalam beberapa tahun ke depan kopi Kintamani akan
tetap menjadi primadona dan sekaligus diharapkan akan mampu
menjadi tulang punggung untuk mengangkat ekonomi para petani
kopi. *jel