17 September 2008  
Home
Berita Terkini

 

Praktik pengobatan alternatif saat ini marak di Bali. Di Denpasar bisa dijumpai puluhan praktik pengobatan alternatif.

Mereka cukup banyak dikunjungi pasien. Karena cukup banyak yang memilih pengobatan alternatif, apakah berdampak terhadap praktik kedokteran modern? Berikut penelusuran BisnisBali.

PENGOBATAN alternatif dapat didefinisikan sebagai pengobatan yang menggunakan berbagai obat-obatan alternatif yang ada atau tanpa operasi. Pengobatan alternatif juga bisa diartikan sebagai bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat, atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern.

Praktik pengobatan alternatif saat ini tersebar di beberapa tempat di Denpasar seperti di seputaran Imam Bonjol, Sidakarya, Gatot Subroto dan beberapa tempat lainnya.

Umumnya, mereka yang melakukan praktik pengobatan alternatif ini dalam memperkenalkan metode pengobatan melakukan promosi melalui media massa seperti koran, radio dan televisi.

Dari promosi tersebut, mereka berharap masyarakat mengetahui lokasi serta jenis-jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan terapi penyembuhan yang ditawarkan oleh terapis atau dalam istilah pengobatan alternatif disebut tabib. Tak jarang pula, suatu praktik pengobatan alternatif dikenal dari mulut ke mulut akibat dari keberhasilan penyembuhan yang dilakukan.

Ada beberapa metode serta terapi penyembuhan alternatif yang umum digunakan oleh tabib yang membuka praktik di Denpasar meliputi terapi energi, terapi fisik, serta terapi pikiran dan spiritual.

Terapi energi misalnya akupuntur, akupresur dan lainnya. Terapi fisik contohnya hidroterapi, aromaterapi, dan lainnya. Terapi pikiran dan spiritual meliputi hipnoterapy, psikoterapy dan lainnya.

DR. (HC) Munzir AR, salah satu tabib serta pengelola klinik pengobatan alternatif di Jalan Gunung Mandala Wangi Denpasar, Selasa (16/9) kemarin mengatakan, saat ini pengobatan alternatif banyak dijumpai di Denpasar. Pengobatan alternatif merupakan pilihan lain bagi masyarakat selain pengobatan secara medis.

“Untuk berobat, masyarakat memiliki pilihan tersendiri. Apakah memilih alternatif atau medis sehingga di sini pengobatan secara medis dan alternatif tidak ada persaingan, justru saling terkait,” ujarnya.

Dikatakan, keterkaitan itu misalnya jika tabib tidak mampu menangani penyakit si pasien serta membutuhkan alat untuk mengetes sembuh tidaknya si pasien, maka si pasien dianjurkan berobat ke rumah sakit atau dokter.

Keterkaitan juga dapat dijumpai, misalnya pasutri yang sudah lama tidak dikaruniai anak datang berobat ke kliniknya. Ternyata setelah melakukan terapi, pasien itu positif hamil. Tiga bulan berikutnya, pasien dianjurkan memeriksakan atau tes USG ke dokter, apakah benar-benar ada janin atau tidak.

“Dalam hal ini dokter sangat diperlukan, sebab dalam klinik pengobatan alternatif tabib tidak memiliki alat-alat medis. Namun dalam menangani pasien lebih banyak menggunakan perpaduan terapi modern serta racikan ramuan herbal disertai doa-doa. Penyembuhan sangat tergantung dari restu Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Di tempat terpisah, dr. Made Widiari, salah satu dokter umum yang membuka praktik di Denpasar mengatakan, maraknya klinik pengobatan alternatif bukan merupakan saingan. Selama ini masing-masing orang memiliki pilihan berobat demi kesembuhannya.

Menurutnya, pengobat alternatif memberikan kesan setiap penyakit dapat disembuhkan sehingga memberikan efek psikologis bagi pasiennya. Sebagai contoh adalah penanganan nyeri kronik pada pasien seringkali nyerinya berkurang dengan pendekatan psikologis tanpa menyentuh faktor patologi yang mendasari nyeri terjadinya tersebut.

Di samping itu, dicontohkannya penyakit psikosomatis. Dikatakan, banyak pasien dengan gejala seperti ini datang berobat ke dokter dikatakan tidak ada penyakit, namun akhirnya dia datang ke pengobat alternatif dan dikatakan memang benar menderita penyakit. Jika pada akhirnya kesembuhan terjadi, pasien pun makin yakin ia memang menderita penyakit.

Dikatakan, praktisi pengobatan seringkali pula mempunyai sifat antusias dan kepribadian yang kharismatik yang juga mempengaruhi dari sisi psikologis pasien.

Selain itu adanya stereotypes yang ada di masyarakat sehingga menimbulkan hal yang kontraproduktif dalam pelayanan kesehatan seperti masyarakat menganggap bahwa pengobatan tradisional bersifat holistik, sedangkan pengobatan modern hanya melihat penyakit. Pengobat tradisional biasanya yang dituakan, sangat dihormati, dan karena itu memegang peranan penting pada pelayanan kesehatan primer.

Di samping itu, adanya budaya dalam masyarakat yang masih mengkategorikan penyakit ke dalam dua jenis yaitu penyakit-penyakit yang dapat disembuhkan oleh dokter dengan cepat dan penyakit ‘tradisional’ yang tidak dapat disembuhkan oleh dokter.

“Dokter sendiri kurang memahami mengenai pengobatan tradisional sehingga adanya kesulitan untuk mendiskusikan dengan pasien yang membutuhkan informasi yang sebenarnya,” ujarnya. *dwi



ket foto ; KLINIK PENGOBATAN ALTERNATIVE – Saat ini pengobatan alternative marak di Denpasar, namun hal itu tidak dirasakan menyaingi praktik dokter umum. Tampak klinik pengobatan milik DR. Munzir.

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost