08 September 2008  
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Usaha Budi Daya Udang Vannamei di Denpasar *Jenis F1 lebih Mengguntungkan
Denpasar (BisnisBali) – Udang wannamei, udang berwarna merah dan terasa manis jika dikonsumsi, saat ini memiliki prospek cukup menjanjikan. Udang jenis ini dibudidayakan di seputaran jalan By-Pass Ngurah Rai, Denpasar, tepatnya di daerah Pesanggaran.

Usaha budi daya udang itu sudah berdiri sejak dua tahun yang lalu, dengan luas lahan tambak mencapai 1,7 hektar. Dengan luas lahan itu, dibuat enam buah kolam tambak, masing-masing kolam memiliki luas 4.200 m2.

Menurut Mat Saiful, bagian teknis yang dipercaya oleh pemilik usaha ini untuk mengelola kolam tambak, Sabtu (6/9) lalu mengungkapkan, di kolam tambak itu dibudidayakan jenis udang F1.

Jenis ini risikonya lebih kecil, pertumbuhannya lebih cepat jika dibandingkan dengan udang jenis lainnya semisal udang jenis F2, serta secara bisnis udang jenis itu sangat mengguntungkan.

Dikatakan, selama ini di tambak tersebut dibudidayakan dua jenis udang yaitu F1 dan F2. Perbedaan udang F1 dengan udang F2 itu adalah benur atau bibit udang F1 diimpor dari Hawai, sedangkan udang F2 merupakan udang lokal hasil budi daya di Indonesia.

Lebih jauh dikatakan, untuk mendapatkan bibit pihaknya membeli dari tempat pembibitan yang disebut hathchry yang ada di Situbondo, Jawa Timur serta Lampung.

Dijelaskan, untuk masing-masing daerah harga benur bervariasi. Untuk benur jenis F1 di Situbondo dijual Rp 35 sedangkan di lampung harganya Rp 38. sedangkan harga benur F2 Rp 12 hingga 22 per ekor.

Lebih jauh dijelaskan, karena memiliki beberapa keuntungan maka pihaknya lebih dominan membudidayakan udang jenis F1. “Pada Agustus lalu, tiap kolam sudah ditebar 450 hingga 550 ribu benur jenis F1,” ujarnya.

Mengapa lebih memilih membudidayakan udang jenis F1? Ia menjelaskan, udang jenis F2 dalam kurun waktu budi daya 60 hari, ukurannya masih kecil serta harganya pun masih murah sedangkan, F2 dalam kurun waktu yang sama sudah siap untuk dipasarkan.

Namun, ada kelemahan udang jenis F1 yaitu daya tahan tubuh lebih lemah dibandingkan dengan jenis F2 yang lebih tahan terhadap lingkungan serta penyakit. “Untuk dilirik sebagai bisnis lebih bagus memelihara udang jenis F1, meskipun daya tahan lemah, namun cepat menghasilkan uang,” tandasnya.

Diungkapkan, perbandingan membudidayakan udang jenis F1 dengan F2 yaitu, umur 60 hari F1 sudah siap untuk dijual, sedangkan F2 dalam kurun waktu 80 hari baru ukurannya sama dengan jenis F1 yang berumur 60 hari.

Untuk udang F1 ukuran atau size 50 (1 kilo isi 50 ekor) dengan masa pemeliharaan yang umumnya 110 hari, sudah siap dipanen. Dan untuk udang F2, 80 hari baru siap dipanen.

Dikatakan, dalam sekali panen selama empat periode, pihaknya mampu menghasilkan 5 hingga 8,5 ton udang vannamei per kolam. Dengan harga jual terakhir (awal Agustus) mencapai Rp 39 ribu hingga Rp 41 ribu per kg. Harga tersebut saat ini mengalami penurunan Rp 36 ribu hingga Rp 37 ribu untuk ukuran 70. “Harganya mengikuti perkembangan pasar,” imbuhnya. *dwi

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost