Amlapura (BisnisBali) - Perajin patung kayu di Banjar
Alas Ngandang dan Bajar Kubakal, Rendang, Karangasem mulai
merasa kesulitan bahan baku. Langkanya albesia, membuat perajin
di dua banjar itu gigit jari.
Menurut perajin di sana, penyebab kelangkaan bahan baku patung
dikarenakan kayu jenis ini sedang diburu. ”Mahalnya
harga bahan bangunan, belakangan banyak yang menggunakan albesia
untuk membangun rumah,” kata Made Darma, salah seorang
perajin patung asal Bajar Alas Ngandang.
Dikatakan, untuk mengatasi kelangkaan kayu lokal, perajin
di sana terpaksa mendatangkan kayu dari Kintamani, Bangli,
dan beberapa daerah lainnya.
Sulitnya bahan baku patung, juga diakui Bendesa Adat Alas
Ngandang, I Wayan Wendra. Dikatakan, warga di sana kebanyakan
bekerja pada sektor kerajinan terutama patung yang menjadi
primadona. Sedikitnya 50 kelompok pematung di daerah ini yang
masing-masing kelompok biasanya beranggotakan 20 sampai 30
orang kebanyakan dari kalangan pemuda.
Sementara jenis patung yang digemari di pasaran, Wendra mangatakan,
tergantung dari pesanan konsumen. ”Motif binatang seperti
anjing, kucing dan burung yang paling digemari,” ungkapnya.
Menyinggung soal harga, Wendra mengatakan, patung dengan ukuran
60 cm harganya berkisar Rp 6.000 sampai Rp 28.000 per biji.
Dikatakan, produksi kerajinan di wilayahnya cukup tinggi.
Dalam sehari masing-masing kelompok bisa menghasilkan ratusan
patung yang langsung diambil oleh pengepul asal Gianyar. Sementara
itu perajin sendiri rata-rata mendapatkan upah Rp 30 ribu
hingga Rp 35 ribu per orang per hari. *rah