Gianyar (BisnisBali) - Dampak naiknya harga kayu,
permintaan kayu nangka dan cempaka mengalami kelesuan. Padahal,
kedua jenis kayu tersebut sebelumnya laris untuk pembuatan
pelinggih (sanggah) dan lain-lain termasuk rumah stil Bali.
H. Sutrisno, pedagang kayu nangka dan cempaka di Batuan Sukawati,
Sabtu (2/8) lalu, menuturkan, pascakenaikan BBM nilai jual
kayunya naik antara Rp 100.000 sampai Rp 200.000 per m3nya.
Namun karena pembuatan pelinggih dan rumah stil Bali tidak
begitu ramai, membuat permintaan kayu nangka dan cempaka menjadi
sepi. Akibatnya, persediaan kayu nangka dan cempaka yang semuanya
didatangkan dari luar (Jawa) menjadi menumpuk di gudangnya.
Kondisi ini juga berakibat pada lambatnya perputaran modal
usahanya.
‘’Banyaknya masyarakat yang melaksanakan kegiatan
upacara Pitra Yadnya (ngaben), juga berpengaruh terhadap permintaan
aneka kayu nangka dan cempaka menjadi lesu. Mengingat, waktu,
tenaga dan modal masyarakat banyak terkuras untuk kegiatan
pelaksanaan upacara agama,’’ terang Sutrisno sambil
menambahkan, sejatinya pemasaran kayu nangka dan cempaka di
daerah ini memiliki peluang yang tinggi.
Mengingat pembuatan pelinggih berupa sanggah, piyasan dan
lain-lain yang notabena juga menggunakan kedua jenis kayu
tersebut masih cukup banyak serta lancar. Hanya saja, masih
menumpuk untuk suatu daerah tertentu saja.
Dicontohkan, hampir semua pengusaha kayu dari luar menyerbu
pasar yang ada di Kabupaten Gianyar. Padahal, daerah lainnya
seperti Tabanan, Jembrana, Klungkung dan lainnya masih tetap
kekurangan bahan kayu nangka maupun cempaka. Sehingga, pihaknya
memasarkan kayu nangka dan cempaka itu ke daerah lainnya di
Bali.
Dijelaskan, semenjak harga BBM naik, kayu nangka dijualnya
dengan harga Rp 4 juta per m3 yang sebelumnya Rp 3,8 juta
per m3. Sedangkan untuk kayu cempaka naik dari Rp 4,4 juta
menjadi Rp 4,5 juta per m3. Dalam kondisi permintaan kayu
ramai, penjualannya mencapai 5 m3 lebih per hari. *mur
|