Badung (BisnisBali) - Guna bisa memberikan harga
jual memadai kepada konsumen, pengembang dituntut mampu mendapatkan
lahan dengan harga relatif murah. Demikian diungkapkan pengamat
pemasaran properti, Eddy Wijaya, belum lama ini.
Katanya, dengan lahan murah pengembang akan bisa melakukan
efisiensi di tengah mahalnya harga-harga bahan bangunan. Kini
di beberapa kawasan di Badung harga tanah mencapai Rp 65 hingga
70 juta per are.
”Dengan mendapatkan lahan relatif murah, pengembang
akan mampu merancang produk yang ekonomis, sehingga sesuai
dengan daya beli konsumen yang lemah saat ini,” tambahnya.
Dia melihat, bisnis perumahan di Bali takkan surut. Hal yang
menjadi pertimbangan pengembang adalah, pangsa pasar yang
ada di Bali beragam. Kebanyakan dari mereka adalah kalangan
menengah bawah yang mendambakan rumah sehat sederhana (RSH)
dengan harga terjangkau.
Akan tetapi kenyataannya sulit terwujud, kalaupun di beberapa
tempat masih bisa harganya disesuaikan pengembang dengan tingginya
operasional proyek saat ini.
Di tempat terpisah, salah seorang pengembang, Wayan Sutrisna
mengungkapkan, di Denpasar dan Badung untuk mendapatkan tanah
murah relatif sulit. Kalau pun ada lokasinya terbelakang,
sehingga untuk bisnis perumahan kurang mendukung.
Namun demikian, dia tetap optimis, sektor perumahan tetap
ramai di Bali, karena kebutuhan konsumen yang cukup tinggi.
Karenanya ia mengharapkan agar perbankan memberikan kepercayaan
kepada masyarakat sebagai sarana kredit bagi konsumen. Soal
perizinan daerah juga diminta lebih mudah, dan politik cepat
stabil sehingga investasi perumahan bisa berkembang. * gun
|