Amlapura (BisnisBali) - Pemkab Karangasem kewalahan
melayani kesulitan air di wilayah Seraya pada musim kemarau
kali ini. Penyebabnya warga Seraya yang sudah biasa dilayani
air pipa dari sumber air Tirta Ujung kini terhenti akibat
kerusakan reservoar Ujung.
Kondisi geografis di wilayah Seraya yang merupakan pegunungan
menambah beban operasional kendaraan tangki untuk melayani
warga yang ada di wilayah atas bukit. Ironisnya mobil tangki
yang sudah disiapkan untuk melayani masyarakat malah mengalami
kerusakan.
Mula-mula dengan adanya stand bay kendaraan tangki di desa
diharapkan bisa mengeleminir kesulitan air saat terjadi masalah
namun kenyataannya belum berfungsi maksimal dan warga tetap
menanti pelayanan gratis dari pemerintah.
”Pascakerusakan reservoar Ujung yang kini membutuhkan
perbaikan dengan biaya tinggi yakni berkisar Rp 200 juta,”
kata Kasi Kantor Kesos Karangasem I Putu Suarsa.
Dikatakan, gambaran itu dicapai saat koordinasi masalah kesulitan
air antarinstansi terkait, namun demikian dari 40 tangki permintaan
Seraya Barat baru dilayani 5 tangki secara bertahap. Kubu
dari permintaan 48 tangki sudah diserahkan pengadaannya langsung
pada rekanan lokal.
Diakui di bilangan Seraya dengan terhentinya pasokan air Tirta
banyak yang mencari air ke sumur warga di dekat pantai selain
menunggu air tangki gratis dari Pemkab Karangasem.
Camat Karangasem I Nyoman Kuta, BA saat dihubungi mengaku
sudah melakukan ceking berulang kali baik melalui rapat di
tingkat kecamatan maupun di kabupaten perihal pengiriman air
tangki ke Seraya.
“Perbekel sudah kita instruksikan segera mengajukan
usul permintaan kepada Bupati untuk lokasi-lokasi yang membutuhkan
dan membuat laporan pascakesulitan air yang dialami warga,”
katanya.
Sementara itu di Kecamatan Kubu justru sudah terbiasa menerima
layanan air lewat tangki bahkan di wilayah Kubu sudah ada
warga yang menjadi pengusaha air tangki untuk melayani masyarakat.
Saat paceklik air tiba, di mana cubang warga juga sudah mulai
menipis, bantuan air tangki pemerintah yang dipasok pengusaha
air tangki lokal ditengarai kemahalan pada kisaran harga Rp
60 – Rp 70 ribu per tangki. Padahal sehari-hari warga
Kubu terbiasa membeli air tangki untuk kebutuhan ekstra baik
upacara, pertanian maupun lainnya.
Camat Kubu Drs. I Wayan Sutapa, M.Si., mengaku sudah melapor
ke Bupati perihal masalah kekurangan air di Kubu. Menyangkut
pasokan air tangki ia mengaku sudah menalangi beban pembiayaannya
sebelum droping dana pengadaan air tangki turun dari Pemkab
melalui Keso. Ia mengharap agar dalam kondisi saat ini didahulukan
dibantu agar masyarakat tidak kecewa, bagaimana pun caranya.
*rah
|