Denpasar (BisnisBali) – Persaingan usaha pengecer
pulsa elektrik makin hari makin tinggi. Kendati demikian,
bisnis ini tidak ditinggalkan, justru pengecer pulsa elektrik
berkembang pesat.
Seperti dikatakan Ratih, pengelola kios ponsel dan pulsa di
Denpasar, Minggu (3/8) kemarin. Perkembangan bisnis pulsa
elektrik tetap prospektif seiiring gencarnya pulsa murah beberapa
operator telekomunikasi. Dalam kurun waktu beberapa tahun
belakangan, jumlah kios penjual pulsa ponsel terus bermunculan.
“Hampir di setiap kios, ruko, pasar, perumahan dan perkantoran
selalu saja ada orang-orang yang membuka gerai penjualan pulsa
ponsel. Bukan hal yang aneh jika beberapa teman di kantor,
kampus, sekolah ada juga berjualan pulsa elektrik,”
jelasnya.
Menurutnya, fenomena ini muncul karena industri ponsel di
Denpasar berkembang sangat pesat. Setiap tahun jumlah pemilik
ponsel dari anak-anak, remaja hingga orangtua terus bertambah.
Di samping peluang pasarnya masih terbuka lebar, operator-operator
telekomunikasi baru juga terus bermunculan dengan beberapa
produk sekaligus. Misalnya, Telkomsel memiliki produk (Simpati,
Kartu AS, dan Halo ).
“Ini belum operator lainnya. Melihat gambaran ini, bukan
hal yang aneh jika permintaan pulsa elektrik juga makin membengkak
dari tahun ke tahun,” paparnya.
Berbicara keuntungan bisnis pulsa elektrik, kata Ratih, dulu
ketika baru ada voucher fisik, pedagang hanya bisa menjual
pulsa dalam pecahan Rp 100.000 atau Rp 50.000 per satu kali
isi pulsa. Sekarang, pedagang bisa menjual pulsa elektrik
dengan nominal Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000,
dan bahkan Rp 5.000 sekali isi.
Dengan pecahan yang makin kecil, imbuhnya, otomatis perputaran
uang pada pemilik gerai pulsa juga makin cepat. Alhasil, karena
jumlah transaksi yang terjadi makin banyak, penjual juga memiliki
peluang makin banyak untuk memperoleh keuntungan.
“Intinya pulsa bagi pengguna ponsel sekarang ini sudah
benar-benar menjadi komoditi,” ucapnya. Indri pemilik
kios ponsel lainnya sependapat, bisnis pulsa elektrik masih
potensial di tengah tingginya persaingan. Hanya bermodalkan
ponsel dan pulsa, semua orang bisa berbisnis.
“Betul, jumlah gerai penjualan pulsa sangat banyak dan
membuat tingkat persaingan di bisnis ini sangat tinggi. Tetapi,
selama jumlah pengguna ponsel masih terus bertambah, rezeki
dari pulsa ponsel juga belum habis,” katanya sambil
menjelaskan sistem kerja penjualan pulsa elektrik bisanya
sistem diskon.
Maksudnya, pihak operator akan menjual pulsanya kepada distributor
hingga pengecer dengan harga yang sedikit lebih rendah dari
harga nominalnya. Selanjutnya, distributor hingga pengecer
menjual voucher pulsa tersebut dengan memasang margin tertentu.
“Marginnya juga tidak bisa tinggi-tinggi sesuai kesepakatan.
Paling banyak mengambil untung sekitar Rp 100-Rp 500 per voucher,”
ungkapnya. *dik
|