Denpasar (BisnisBali) – Permintaan komputer
kini mulai mengalami kelesuan. Ini seiring dengan lesunya
perekonomian yang berdampak pada merosotnya daya beli masyarakat
terhadap produk teknologi tersebut.
Salah seorang pebisnis komputer di Denpasar, Wayan Edi Darsana,
Minggu (3/8) kemarin mengatakan, meski harga beberapa produk
komputer telah mengalami penurunan, permintaan konsumen terhadap
produk tersebut tetap lesu.
“Turunnya harga komputer itu tidak secara otomatis meningkatkan
penjualannya, karena daya beli masyarakat belum mengalami
peningkatan. Saat ini banyak konsumen yang menunggu sampai
harga yang diinginkan. Ini menyebabkan, banyak konsumen yang
menunda pembelian komputer,” katanya.
Penurunan harga komputer sangat tergantung dengan nilai tukar
rupiah terhadap dolar AS. Jika rupiah menguat, dipastikan
harga komputer akan mengalami penurunan.
Demikian juga sebaliknya. “Komputer baru saat ini harganya
masih tetap stabil. Sementara harga komputer bekas telah mulai
mengalami penurunan,” ujarnya.
Ia menambahkan, turunnya harga komputer bekas ini membuat
perdagangannya makin marak. “Permintaan konsumen terhadap
komputer bekas ini terus meningkat,” katanya.
Dalam sehari, Edi mengaku bisa menjual 6-10 unit komputer
bekas. Sementara untuk komputer baru, rata-rata 3 unit per
hari,” katanya. Meningkatnya permintaan tersebut, kemungkinan
juga dikarenakan para pedagang banyak yang membanting harga.
Produk yang harganya dibanting itu, umumnya yang sudah ketinggalan
teknologi masa kini. “Komputer bekas ini, umumnya ditawarkan
dengan harga Rp 1,5 juta per unit,” katanya.
Pebisnis komputer ini, menurut Edi, sangat rentan mengalami
kerugian. Ini dikarenakan, mereka mengimpor komputer dan komponennya
saat kurs masih tinggi. Kondisi ini sangat merugikan pebisnis
komputer.
Sementara itu, khusus untuk komponen komputer seperti processor,
harganya relatif stabil dan tidak terpengaruh dengan kurs.
“Meski demikian, dalam berbisnis komputer ini, pengusaha
harus hati-hati dan jeli agar tak menanggung kerugian,”
katanya. *yas