Denpasar (BisnisBali) – Menjelang peringatan
ke- 63 Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2008,
pedagang bendera musiman di Kota Denpasar mulai menjamur.
Meski masih sekitar beberapa minggu lagi, dari pantaun BisnisBali,
Minggu (3/8) kemarin, tampak beberapa pedagang bendera merah
putih sudah banyak terlihat menggelar dagangannya di atas
trotoar dan tempat-tempat strategis lainnya. Seperti di seputaran
jalan Diponogoro, Imam Bonjol dan lainnya.
Dana, salah satu penjual bendera yang datang jauh-jauh dari
Jawa Barat khusus menjual bendera Merah Putih mengatakan,
dari tahun ke tahun menjelang peringataan Hari Kemerdekaan
RI, ia ke luar daerah atau pulau untuk menjual bendera merah
putih, tak ketinggalan Bali.
Selama seminggu berada di Bali, ia mengaku permintaan masyarakat
sudah mulai ramai. Tiap harinya, empat hingga enam buah bendera
terjual. Lebih jauh ia mengaku, sebagai pedagang bendera tak
hanya sekadar mencari keuntungan semata, namun dengan menjual
bendera ada kesan nasionalisme serta terkandung makna perjuangan.
“Sebagai orang Bandung yang dikenal dengan kota Pahlawan,
merasa menjual bendera merah putih menjelang peringatan 17
Agustus membawa kebanggaan tersendiri. Berbeda dengan pejuang
terdahulu yang mencoba mengibarkan bendera merah putih dengan
titik darah penghabisan,” ujarnya.
Ditambahkan, dirinya akan berjualan sampai dengan 2 atau 1
hari menjelang hari 17 Agustus, sedangkan pada perayaan Kemerdekaan
RI nanti pihaknya tidak berjualan lagi, karena permintaan
dirasakan sudah mulai berkurang.
Berbagai jenis serta model bendera ditawarkan oleh Dana. Mulai
dari umbul-umbul, bendera berbentuk kipas dan atribut lainnya.
Mengenai harga jual, dijelaskan, bendera, umbul-umbul, kipas
serta atribut lainnya, harganya bervariasi tergantung ukurannya.
Untuk ukuran mini, paling rendah harganya Rp 10.000 per pcs,
sedangkan ukuran lain bervariasi antara Rp 50.000 hingga Rp
150.000 per buah. “Harga bendera naik, karena terjadi
kenaikan harga bahan baku dampak dari kenaikan BBM,”
imbuhnya. *dwi