Denpasar (BisnisBali)-Kanker leher rahim atau kanker
serviks adalah penyakit yang sel-sel leher rahim tumbuh secara
abnormal dan tidak terkendali sehingga merusak jaringan di
sekitarnya. Kanker jenis ini banyak menyerang wanita di negara
berkembang termasuk Indonesia. Setiap tahunnya ada 180.000
sampai 200.000 kasus baru kanker leher rahim.
Demikian Kepala Cabang Laboratorium Prodia Denpasar Erizal
Sugiono, S.Si., Apt., M.Kes. mengungkapkan, Sabtu (3/8) terkait
dengan kasus penyakit kanker leher rahim.
Menurut dia, pentingnya deteksi dini terhadap kasus kanker
leher rahim untuk menghindari kefatalan jika sudah terserang
kanker leher rahim. Di samping itu, deteksi dini kanker leher
rahim juga merupakan salah satu upaya untuk menekan biaya
mengingat biaya penanganan kasus kanker leher rahim bagi kaum
wanita yang kadung sudah terserang kasus penyakit ini cukup
mahal. Jumlahnya juga sangat menguras kondisi ekonomi keluarga.
Dijelaskan, walaupun kanker leher rahim merupakan jenis kanker
terbanyak dan dengan angka kematian tinggi di Indonesia, untungnya
dapat dicegah dan disembuhkan bila dapat dideteksi secara
dini dan segera ditangani. Cara deteksi yang umum dikenal
adalah pap smear, yaitu pemeriksaan untuk melihat sel-sel
leher rahim dengan mengambil contoh sel melalui vagina dengan
alat khusus.
Kemampuan deteksi pap smear terbatas. Sebagian sel yang akan
dideteksi kadang tidak terbawa atau sel yang bertumpuk sehingga
menyebabkan preparat (kaca tipis berisi sel) menjadi kabur.
Sekarang ada pemeriksaan metoda baru yang lebih akurat yaitu
sitologi serviks berbasis cairan dan HPV DNA.
Pemeriksaan sitologi serviks berbasis cairan akan meningkatkan
kemampuan atau keakuratan deteksi awal adanya kelainan sel
leher rahim. Dengan adanya penanganan khusus pada metoda ini
sel pengganggu atau faktor pengganggu lainnya pada saat pendeteksian
dapat dihilangkan. Prosesnya pun terstandardisasi dengan menggunakan
prosesor otomatis.
Pemeriksaan HPV DNA digunakan untuk mengetahui ada tidaknya
Human Papiloma Virus (HPV), yaitu virus yang dapat menyebabkan
kanker leher rahim. Kebanyakan orang yang telah aktif secara
seksual dapat terinfeksi HPV.
Kelompok yang mempunyai risiko tinggi terjangkit HPV ini adalah
wanita yang melakukan hubungan seksual pada waktu muda (usia
14-16 tahun) dan yang mempunyai pasangan seks banyak.
Semua wanita yang pernah melakukan hubungan seksual sebaiknya
melakukan skrining laboratorium ini, karena penyakit kanker
leher rahim tidak diawali gejala-gejala khusus pada stadium
awal.
Baru saat keganasan menyebar penderitanya akan mengeluhkan
perdarahan pada vagina, nyeri saat senggama dan saat berkemih.
Karenanya, segera lakukan deteksi dini kanker leher rahim
sebelum terlambat. *dra/asp…
Salah seorang petugas Lab. Klinik Prodia, sedang memberikan
konsultasi dengan salah seorang wanita tentang kanker leher
rahim.