Jakarta (BisnisBali) – Himpunan Kelompok Tani
Indonesia (HKTI) menganggap perundingan Organisasi Perdagangan
Dunia (World Trade Organization/WTO) yang dianggap sebagian
besar kalangan telah gagal justru kemenangan bagi negara miskin
dan berkembang.
"Pengertian gagal ini perlu dilihat lagi. Justru kita
melihatnya sebagai keberhasilan bagi negara berkembang,"
kata Sekjen HKTI, Rahmat Prambudy, di Jakarta, Sabtu (2/8)
lalu.
Ia mengatakan, jika dilihat hasil dari perundingan WTO di
Jenewa merupakan kegagalan bagi negara maju untuk memaksakan
kehendaknya, yakni memaksa agar subsidi terhadap produk pertaniannya
tidak dicabut, melaksanakan kolonialisasi dengan produk berharga
rendah ke negara miskin dan berkembang.
Menurut dia, jika Indonesia berpihak pada sikap negara maju
tentu akan mengatakan perundingan tersebut gagal. HKTI sendiri
berpihak pada petani kecil, karena itu menganggap apa yang
terjadi di Jenewa merupakan kemenangan.
Lebih lanjut dia mengatakan, seharusnya tidak perlu ada rasa
takut dan khawatir bagi negara kecil dan berkembang menghadapi
perdagangan bebas jika negara maju juga melakukan perdagangan
yang jujur.
"Mereka sering ingkar janji, itu masalahnya. Sekarang
berpaling lagi pada pemerintah sendiri, apakah mau membela
petani kecilnya sendiri?" ujar dia.
Menurut dia, HKTI sekitar empat tahun lalu telah memperingatkan
pemerintah untuk lebih memperhatikan petani sendiri agar produktivitas
pertanian dalam negeri meningkat dan kualitasnya lebih baik.
Nyatanya subsidi pupuk, subsidi benih, perbaikan irigasi terlambat
dilakukan, sehingga ketika saat ini baru disadari produktivitas
dan kualitas telah menurun. "Hal ini yang pada akhirnya
membuat kita rentan terhadap produk-produk pertanian impor,"
ujar dia.
Rahmat menyayangkan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah
terkait dengan kedelai, yakni bukan petani kedelai yang diberikan
subsidi tetapi justru produk kedelai impor yang diberikan
subsidi.
Menurut dia, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk
meningkatkan daya beli masyarakat sehingga dapat membeli produk
pertanian dalam negeri, bukan justru memanjakan masyarakat
dengan produk pertanian impor murah sehingga mematikan petani
dalam negeri.
Menurut dia, ada baiknya ekonomi kerakyatan dikedepankan.
Semua diserahkan pada rakyat, rakyat yang berproduksi sendiri
tetapi tidak dengan cara dipaksa. *ant