Jakarta (BisnisBali) – Kementerian BUMN menyatakan
siap mengelola aset PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) jika
Menteri Keuangan menggunakan opsi pembubaran perusahaan itu.
"Oh ya... siap mengelolanya dan menjadikannya aset baru
BUMN, jika Menteri Keuangan selaku kuasa pemegang saham PPA
menyerahkannya," kata Meneg BUMN Sofyan Djalil, di Jakarta,
akhir pekan lalu. Menurut Sofyan, pemerintah hingga kini belum
memutuskan opsi terhadap PPA yang harus sudah bubar pada Oktober
2008.
Opsi yang dimaksud yaitu memperpanjang tugas PPA, membubarkan
PPA yang dilanjutkan dengan membentuk PPA baru, atau membubarkan
dengan mengalihkan pengelolaan aset ke Kementerian BUMN. "Perlu
dibicarakan lebih lanjut dengan Menkeu, untuk menentukan plus
minusnya jika memang dibubarkan," kata Sofyan.
Dari sisi kinerja, PPA yang dibentuk di masa krisis moneter
dengan nama Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) relatif
bagus. Realisasi setoran PPA kepada APBN sejak 2004 hingga
2007 mencapai Rp 15,76 trilyun jauh lebih besar dibandingkan
target yang ditetapkan dalam Rencana Jangka Panjang sebesar
Rp 7,51 trilyun.
Pada periode tersebut PPA juga mampu membukukan laba bersih
sebesar Rp 1,258 trilyun dan dari jumlah tersebut disetor
dalam bentuk dividen kepada APBN sebesar Rp 843,35 milyar.
Sesuai dengan mandat Menkeu, PPA harus dibubarkan namun tetap
mengkaji kemungkinan merekrut para ahli dibidang pengelolaan
aset itu untuk ditugaskan mengelola aset BUMN yang merugi
dan berkinerja buruk.
Menurut catatan Kemeneg BUMN, perusahaan "pelat merah"
yang mengalami defisit pada 2008 diperkirakan 11 perusahaan
meski menurun dibandingkan prognosa 2007 sebanyak 28 BUMN
dengan total kerugian Rp 2,94 trilyun.
"Saya tidak bisa menentukan sendiri, yang pasti keahlian
mereka (karyawan PPA) yang kita butuhkan," kata Sofyan.
Terkait aset kelolaan PPA dalam bentuk properti yang belum
terjual, Sofyan berpendapat diserahkan sepenuhnya kepada Menkeu
apakah diambil atau dikelola sendiri atau menyerahkannya menjadi
aset BUMN.
"Dalam kondisi seperti sekarang ini sangat tergantung
pasar properti. Ini masalah pengelolaan saja," katanya.
*ant