04 Agustus 2008  
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Tak Layak Diantarpulaukan, Peternak bisa Manfaatkan RPH
Denpasar (BisnisBali)- Pemilihan sapi yang ekstra ketat yang dilakukan pengusaha antarpulau kerapkali membuat peternak merasa dirugikan karena mereka dinomorduakan.

Bahkan, beberapa sapi milik peternak dinyatakan tidak layak untuk diantarpulaukan dengan alasan kondisi kesehatan dan kesalahan pemberian pola pakan.

“Jika dinyatakan tidak layak diantarpulaukan, peternak bisa menjual sapinya ke Rumah Potong Hewan (RPH),” ungkap Ketua Program Magister Ilmu Peternakan Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. K. Sumadi, MS., Sabtu (2/8) lalu.

Dikatakan, alasan sapi patah atau mati dalam perjalanan antarpulau tidak perlu lagi menghantui peternak sapi di Bali. Jika sapi sudah dikategorikan tidak layak untuk diantarpulaukan, peternak bisa memasarkannya ke RPH-RPH yang ada di Bali.

Daging sapi hasil pemotongan RPH bisa digunakan untuk memenuhi konsumsi masyarakat lokal, memenuhi kebutuhan hotel, restoran termasuk diekspor.

Menurutnya, peternak sapi antarpulau juga tidak mesti hanya menjual sapi hidup ke luar daerah. Jika menjual sapi hidup, pengusaha hanya mendapatkan keuntungan dari menjual sapi tersebut.

Sebaliknya jika pengusaha antarpulau berkerja sama dengan RPH di Bali, para pungusaha akan mendapatkan keuntungan dari menjual daging karkas termasuk penjualan komponen di luar karkas seperti kepala jeroan, kulit, kaki dan tulang.

Komponen di luar karkas ini bisa dapat dikonsumsi oleh penduduk lokal termasuk digunakan untuk bahan kerajinan. Sementara itu, daging karkas ini bisa dijual dalam bentuk beku.

Jika pengusaha antarpulau bekerja sama dengan RPH kemungkinan mereka hanya dibebankan biaya ristribusi RPH. Lebih lanjut dikatakan, pengusaha antarpulau perlu mempertimbangkan membeli daging sapi peternak yang telah dipotong di RPH. Daging sapi yang telah dipotong melalui RPH tentunya sudah mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah.

Sumadi menambahkan upaya pengusaha antarpulau yang beralih dari menjual sapi hidup menjadi penjualan daging sapi beku dipastikan tidak akan terlalu dipermasalahkan oleh pasar di luar Bali seperti Jakarta. Pengusaha antarpulau tidak perlu lagi dihantui kerugian akibat sapi patah atau mati dalam perjalanan antarpulau. *kup
  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost