Amlapura (BisnisBali) - Dusun Tanah Ampo, Desa Sibetan,
Bebandem memiliki kekhasan dalam produksi salak. Saat paceklik
salak di semua tempat (sekitar Agustus), Tanah Ampo justru
memiliki salak sehingga dapat menikmati harga cukup tinggi.
Dengan harga salak saat ini berkisar Rp 3.000 per kg untuk
salak biasa dan Rp 30.000 per kg untuk salak gula pasir, menurut
penuturan petani I Ketut Latra merupakan harga yang cukup
baik.
Dikatakan, sebelum kenaikan BBM harga salak sempat anjlok
tiap panen mencapai hanya Rp 300 - Rp 500 per kg. Pada saat
paceklik ini di wilayah Tanah Ampo yang memiliki areal salak
sekitar 100 Ha dengan sekitar 48 KK petani/penggarap salak,
masih memiliki salak dengan harga tinggi.
”Harga biasanya anjlok saat panen raya, kalau produksi
melimpah, buah salak tidak ada harganya,” ungkap Latra.
Sementara Perbekel Sibetan Ida Bagus Suteja ketika ditemui
mengatakan, komoditi salak merupakan sumber penghasilan warga
Jungutan di samping kerajinan, sebagian kecil galian C, sektor
jasa perdagangan dan lainnya.
Dari komoditi salak hasil dari Desa Jungutan dipasarkan di
Kota Amlapura, Pasar Karanganyar, Denpasar serta Surabaya.
Menurutnya, Desa Jungutan Kecamatan Bebandem merupakan salah
satu desa penghasil salak andalan di Karangasem setelah Sibetan.
Dengan luas wilayah 1936 Ha hampir di semua dusunnya yang
berjumlah 12 dusun menjadi penghasil salak.
Dihuni sekitar 6287 jiwa terdiri 1910 KK dalam satu tahun
bisa menghasilkan 8 ton salak dalam 2 kali panen per tahun
sedangkan pada musim standar berkisar 6 ton. ”Warga
di sini biasanya menikmati hasil panen dengan harga jual yang
bagus di musim itu,” ungkapnya. *rah
|