Denpasar (BisnisBali) –Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dijadwalkan meresmikan proyek jaringan pengolahan
limbah rumah tangga terpadu senilai Rp 526 milyar di Denpasar,
bertepatan pembukaan Pesta Kesenian Bali, 14 Juni mendatang.
Proyek sanitasi terpadu yang disebut Denpasar Sewarage Development
Project (DSDP) itu tahap pertama memiliki jaringan penyaluran
limbah ke 10 ribu rumah, kata Direktur Pengembangan Penyehatan
Lingkungan Pemukiman (PLP) Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan
Umum, Ir. Susmono di Sanur, Bali, Minggu (8/6) kemarin.
Ia mengungkapkan hal itu di sela-sela lomba gambar dan pidato
diikuti 150 siswa dari 61 SD dalam rangka kampanye nasional
Tahun Sanitasi Internasional (International Year of Sanitation/IYS)
2008. Lomba dimaksudkan memberikan edukasi pentingnya menjaga
air dan mengelola sampah dengan benar.
Disebutkan, pembangunan proyek sanitasi DSDP tersebut merupakan
salah satu upaya dalam menjaga kebersihan air, dengan cara
menyalurkan limbah rumah tangga ke jaringan distribusi untuk
kemudian diolah. Dengan demikian limbah rumah tangga tidak
akan mencemari lingkungan dan tidak sampai terbuang ke sungai
dan ke laut.
"Di negara-negara maju seperti di Eropa, saluran air
selalu bersih, karena limbah rumah tangga sudah ada jaringannya
sendiri. Ini penting dalam upaya menjaga kebersihan air dan
kesehatan lingkungan," tutur Susmono.
Menurut Susmono, di negara-negara Eropa jaringan limbah sudah
mampu melayani sebagian besar rumah tangga. Sementara di Indonesia
jika bisa mencapai 20 persen saja untuk tahap awal ini sudah
cukup bagus.
Di Indonesia masalah sanitasi memerlukan perhatian serirus,
karena dari 100 ribu kematian balita setiap tahun, 31.200
atau lebih 30 persen disebabkan oleh diare yang disebabkan
oleh buruknya sanitasi.
Kemudian berdasarkan data BPS tahun 2006, baru 55 persen rumah
tangga memiliki akses sanitasi dan toilet secara memadai.
Artinya masih ada sekitar 100 juta masyarakat Indonesia yang
hidup dengan sanitasi buruk.
Dengan diresmikannya proyek DSDP oleh Presiden Yudhoyono,
diharapkan gaung untuk menjaga kebersihan air dan tidak membuang
sampah secara sembarangan diharapkan bisa lebih meresap ke
masyarakat luas.
Susmono menyebutkan, orang yang sudah dewasa dan tua, sulit
untuk menyadari dan segera melakukan perubahan perilaku menuju
hidup di lingkungan yang bersih dan sehat.
"Yang sudah terbiasa membuang sampah ke sungai akan terus
begitu. Karena itu kami mengkampanyekannya ke anak-anak lewat
lomba menggambar dan pidato," ucapnya.
Dicontohkan di Denpasar, setiap hari petugas Dinas Pekerjaan
Umum menjaring dan mengangkut sampah dari sungai hingga beberapa
truk. Tetapi masyarakat, dan bahkan pegawai Dinas PU sendiri
tetap saja membuang sampah ke sungai.
Ia mengingatkan, bumi terancam krisis air bersih, termasuk
akibat pembuangan limbah rumah tangga dan lainnya ke sungai
dan sumber air. Karena itu, perlu terus digalakkan upaya menyadarkan
masyarakat agar tidak lagi mengotori air dengan sampah.
Susmono menambahkan, pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah
Terpadu (IPST) Sarbagita di Suwung, yang mengolah sampah menjadi
kompos dan energi listrik merupakan salah satu upaya yang
cukup bagus dalam rangka menjaga lingkungan.
"Upaya itu bagus, tetapi dalam 15-20 tahun program tersebut
harus dievaluasi lagi disesuaikan dengan perkembangan dan
kondisi mendatang, termasuk mempertimbangkan peningkatan produksi
sampah yang terus meningkat," ucapnya. *wid/ant