Tabanan (BisnisBali) –Bagi masyarakat berduit,
akan mengincar barang kerajinan bernilai seni seperti gebyog.
Jika sebelumnya masyarakat banyak yang memburu gebyog hasil
kerajinan luar Bali, belakangan mereka cenderung berburu gebyog
asli Bali. Meski harganya lebih mahal, tidak jadi masalah
yang penting sebuah nilai estetika.
Ketut Suweta, salah seorang perajin aneka ukiran kayu di Kediri,
Jumat (29/2) kemarin mengaku, sejak beberapa bulan ini dirinya
memang cukup banyak mendapat orderan membuat gebyog yang dihasilkan
perajin Bali. “Awalnya kami memang mencoba membuat contoh
gebyog bercirikan khas Bali. Ternyata hasilnya cukup diminati,”
katanya.
Setidaknya dalam seminggu ini, ada saja yang memesan gebyog
yang dibuatnya. Untuk menyiasati permintaan, dia selalu membuat
stok kendati dalam jumlah yang terbatas.
Membuat satu buah gebyog, kata Suweta membutuhkan waktu yang
cukup lama dan sangat tergantung dari motif yang ditawarkan.
Kalau untuk gebyog motif Prancis, memang membutuhkan waktu
relatif lebih singkat dibandingkan dengan penyelesaian gebyog
motif pandil (pewayangan).
“Kalau gebyog motif pewayangan memang lebih lama karena
detail sekali. Sementara untuk motif Prancis relatif lebih
singkat, karena motifnya jauh lebih sederhana,” ujarnya.
Sementara bahan baku yang digunakan secara umum ada dua jenis
kayu yakni, kayu jati dan kayu nangka. Namun menurut Suweta,
gebyog berbahan baku kayu jati lebih banyak mendapat pilihan
masyarakat.
Disinggung harga satu gebyog, Suweta mengaku sangat bervariasi,
tergantung dari bahan bakunya. Gebyog berbahan baku kayu jati
dijual rata-rata Rp 22 juta dan berbahan baku kayu nangka
Rp 20 juta.
Ketut Suteja, salah seorang pembeli dari Desa Padangsambian
Denpasar, mengaku dirinya tertarik dengan gebyog khas Bali,
karena motif ukirannya yang menawarkan nilai estetika cukup
tinggi. “Terpancar nilai budaya Bali yang kental ditawarkan
gebyog Bali ini. Kekentalan nilai budaya Bali ini yang membuat
saya kepincut,” katanya.
Disinggung harga gebyog Bali yang cukup mahal, Suteja mengaku
nilai seni tidak bisa semata-mata dinilai dari uang. “Ketika
saya tertarik dengan hasil kerajinan bernilai seni tinggi,
soal harga saya pikir menjadi nomor dua,” ungkapnya.
Gebyog Bali, kata Suteja, sangat mudah ditempatkan, yang penting
ada nuansa tradisi yang mendampingi. Tinggal sekarang, pembeli
pintar-pintar menempatkan gebyog yang satu ini, sehingga tidak
hanya akan bisa menawarkan keindahan, tapi juga kemewahan
dalam balutan sebuah estetika. *can