01 Maret 2008  
Home
Berita Terkini

 

’’Gebyog” Bali makin Diminati
Tabanan (BisnisBali) –Bagi masyarakat berduit, akan mengincar barang kerajinan bernilai seni seperti gebyog. Jika sebelumnya masyarakat banyak yang memburu gebyog hasil kerajinan luar Bali, belakangan mereka cenderung berburu gebyog asli Bali. Meski harganya lebih mahal, tidak jadi masalah yang penting sebuah nilai estetika.

Ketut Suweta, salah seorang perajin aneka ukiran kayu di Kediri, Jumat (29/2) kemarin mengaku, sejak beberapa bulan ini dirinya memang cukup banyak mendapat orderan membuat gebyog yang dihasilkan perajin Bali. “Awalnya kami memang mencoba membuat contoh gebyog bercirikan khas Bali. Ternyata hasilnya cukup diminati,” katanya.

Setidaknya dalam seminggu ini, ada saja yang memesan gebyog yang dibuatnya. Untuk menyiasati permintaan, dia selalu membuat stok kendati dalam jumlah yang terbatas.

Membuat satu buah gebyog, kata Suweta membutuhkan waktu yang cukup lama dan sangat tergantung dari motif yang ditawarkan. Kalau untuk gebyog motif Prancis, memang membutuhkan waktu relatif lebih singkat dibandingkan dengan penyelesaian gebyog motif pandil (pewayangan).

“Kalau gebyog motif pewayangan memang lebih lama karena detail sekali. Sementara untuk motif Prancis relatif lebih singkat, karena motifnya jauh lebih sederhana,” ujarnya.

Sementara bahan baku yang digunakan secara umum ada dua jenis kayu yakni, kayu jati dan kayu nangka. Namun menurut Suweta, gebyog berbahan baku kayu jati lebih banyak mendapat pilihan masyarakat.

Disinggung harga satu gebyog, Suweta mengaku sangat bervariasi, tergantung dari bahan bakunya. Gebyog berbahan baku kayu jati dijual rata-rata Rp 22 juta dan berbahan baku kayu nangka Rp 20 juta.

Ketut Suteja, salah seorang pembeli dari Desa Padangsambian Denpasar, mengaku dirinya tertarik dengan gebyog khas Bali, karena motif ukirannya yang menawarkan nilai estetika cukup tinggi. “Terpancar nilai budaya Bali yang kental ditawarkan gebyog Bali ini. Kekentalan nilai budaya Bali ini yang membuat saya kepincut,” katanya.

Disinggung harga gebyog Bali yang cukup mahal, Suteja mengaku nilai seni tidak bisa semata-mata dinilai dari uang. “Ketika saya tertarik dengan hasil kerajinan bernilai seni tinggi, soal harga saya pikir menjadi nomor dua,” ungkapnya.

Gebyog Bali, kata Suteja, sangat mudah ditempatkan, yang penting ada nuansa tradisi yang mendampingi. Tinggal sekarang, pembeli pintar-pintar menempatkan gebyog yang satu ini, sehingga tidak hanya akan bisa menawarkan keindahan, tapi juga kemewahan dalam balutan sebuah estetika. *can


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost