Badung (BisnisBali) –Perkembangan sektor properti,
khususnya perumahan dan vila telah menyebabkan terangkatnya
harga tanah di sejumlah kawasan di Badung. Ini menguntungkan
bagi sebagian pemilik lahan yang memang memiliki niat untuk
menjual tanahnya.
Menurut praktisi bisnis properti, Gede Agus Sudipta, S.T.,
Jumat (29/2) kemarin, kondisi ini cukup dilematis. Alasannya,
pengembangan perumahan dan vila belakangan ini cukup berjalan
mulus, karena kuatnya pengaruh para pengembang maupun investor
asing, yang ingin menanamkan modal mereka di sejumlah kawasan
pedesaan yang di sekelilingnya masih merupakan kawasan pertanian.
Dengan masuknya investor asing, telah membawa perubahan yang
cukup luas terhadap perilaku hidup masyarakat setempat, yang
mana menyebabkan para pemilik lahan non-produktif merasa lebih
baik menjual lahan mereka, ketimbang mengelolanya untuk lahan
beternak, atau menanam tumbuhan tertentu yang memiliki nilai
ekonomis.
Daya tarik yang ditawarkan investor asing, yakni dengan menawar
lahan-lahan non-produktif itu lebih mahal dari lazimnya, membuat
pemilik lahan tergiur untuk melepas tanah mereka.
Akibatnya, tanpa disadari kini telah banyak tumbuh vila-vila,
selain perumahan yang berada di antara persawahan milik pengembang
dan investor asing.
“Selain investor asing, pengembang lokal juga cukup
jeli membaca pasar, sehingga cenderung mendapatkan lahan yang
harganya relatif murah, dengan berbagai pertimbangan yang
diajukan kepada pemilik lahan.
Salah satunya kondisi lahan yang terjal, perlu investasi besar,
dan lainnya, sehingga banyak pemilik lahan yang begitu saja
luluh ketika tanahnya dihargai relatif murah.
Di bagian lain, pengembang perumahan juga sudah sangat selektif.
Mereka membangun rumah tipe sederhana yang dijual dengan harga
mulai Rp 150 juta hingga Rp 175 juta per unit.
Sasaran mereka adalah kalangan pendatang dari sejumlah kabupaten
dan kota di luar Badung, yang memang kebetulan mencari penghidupan
di sejumlah industri maupun instansi pemerintahan di Badung,”
katanya.
Dia juga mengatakan, melihat rata-rata harga tanah di kawasan
Badung Utara, seperti, Mengwi, di sepanjang kawasan Jalan
Bantas, Buduk, dan sekitarnya saat ini mencapai Rp 55 juta
hingga Rp 65 juta per are. Harga tanah ini masih terbilang
cukup ideal untuk dimanfaatkan pengembang guna membangun perumahan.
Dibandingkan di kawasan pinggiran Kota Denpasar yang nilainya
bisa mencapai ratusan juta rupiah per are, sehingga memerlukan
investasi besar untuk sampai bisa melangsungkan proyek, sementara
pasar yang disasar kalangan menengah atas yang relatif terbatas.
Sebelumnya, salah seorang pengembang perumahan, Jro Mangku
Made Subagia, S.H., mengeluhkan cukup drastisnya harga tanah
non-produktif masyarakat akibat maraknya pencarian lahan dari
kalangan pengembang dan investor asing.
Baginya ini bisa menjadi satu ancaman untuk bisa eksis di
bisnis perumahan, karena sulitnya menekan biaya operasional,
sementara pasar rata-rata menghendaki harga rumah yang terjangkau.
“Saya sendiri sekarang ini belum berani investasi di
perumahan dan memilih ke vila, untuk menghindari risiko kegagalan
proyek,” katanya.
Dia memiliki harapan mengembangkan vila, selain segmen pasarnya
kemungkinan bisa diarahkan untuk kalangan wisatawan, di samping
kalangan pemodal luar Bali yang ingin memiliki vila di Bali
untuk ditempati sendiri, maupun dibisniskan kembali. *gun