01 Maret 2008  
Home
Berita Terkini

 

Harga Tanah terus Melonjak *Dampak Maraknya Investasi Properti
Badung (BisnisBali) –Perkembangan sektor properti, khususnya perumahan dan vila telah menyebabkan terangkatnya harga tanah di sejumlah kawasan di Badung. Ini menguntungkan bagi sebagian pemilik lahan yang memang memiliki niat untuk menjual tanahnya.

Menurut praktisi bisnis properti, Gede Agus Sudipta, S.T., Jumat (29/2) kemarin, kondisi ini cukup dilematis. Alasannya, pengembangan perumahan dan vila belakangan ini cukup berjalan mulus, karena kuatnya pengaruh para pengembang maupun investor asing, yang ingin menanamkan modal mereka di sejumlah kawasan pedesaan yang di sekelilingnya masih merupakan kawasan pertanian.

Dengan masuknya investor asing, telah membawa perubahan yang cukup luas terhadap perilaku hidup masyarakat setempat, yang mana menyebabkan para pemilik lahan non-produktif merasa lebih baik menjual lahan mereka, ketimbang mengelolanya untuk lahan beternak, atau menanam tumbuhan tertentu yang memiliki nilai ekonomis.

Daya tarik yang ditawarkan investor asing, yakni dengan menawar lahan-lahan non-produktif itu lebih mahal dari lazimnya, membuat pemilik lahan tergiur untuk melepas tanah mereka.

Akibatnya, tanpa disadari kini telah banyak tumbuh vila-vila, selain perumahan yang berada di antara persawahan milik pengembang dan investor asing.

“Selain investor asing, pengembang lokal juga cukup jeli membaca pasar, sehingga cenderung mendapatkan lahan yang harganya relatif murah, dengan berbagai pertimbangan yang diajukan kepada pemilik lahan.

Salah satunya kondisi lahan yang terjal, perlu investasi besar, dan lainnya, sehingga banyak pemilik lahan yang begitu saja luluh ketika tanahnya dihargai relatif murah.

Di bagian lain, pengembang perumahan juga sudah sangat selektif. Mereka membangun rumah tipe sederhana yang dijual dengan harga mulai Rp 150 juta hingga Rp 175 juta per unit.

Sasaran mereka adalah kalangan pendatang dari sejumlah kabupaten dan kota di luar Badung, yang memang kebetulan mencari penghidupan di sejumlah industri maupun instansi pemerintahan di Badung,” katanya.

Dia juga mengatakan, melihat rata-rata harga tanah di kawasan Badung Utara, seperti, Mengwi, di sepanjang kawasan Jalan Bantas, Buduk, dan sekitarnya saat ini mencapai Rp 55 juta hingga Rp 65 juta per are. Harga tanah ini masih terbilang cukup ideal untuk dimanfaatkan pengembang guna membangun perumahan.

Dibandingkan di kawasan pinggiran Kota Denpasar yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah per are, sehingga memerlukan investasi besar untuk sampai bisa melangsungkan proyek, sementara pasar yang disasar kalangan menengah atas yang relatif terbatas.

Sebelumnya, salah seorang pengembang perumahan, Jro Mangku Made Subagia, S.H., mengeluhkan cukup drastisnya harga tanah non-produktif masyarakat akibat maraknya pencarian lahan dari kalangan pengembang dan investor asing.

Baginya ini bisa menjadi satu ancaman untuk bisa eksis di bisnis perumahan, karena sulitnya menekan biaya operasional, sementara pasar rata-rata menghendaki harga rumah yang terjangkau.

“Saya sendiri sekarang ini belum berani investasi di perumahan dan memilih ke vila, untuk menghindari risiko kegagalan proyek,” katanya.
Dia memiliki harapan mengembangkan vila, selain segmen pasarnya kemungkinan bisa diarahkan untuk kalangan wisatawan, di samping kalangan pemodal luar Bali yang ingin memiliki vila di Bali untuk ditempati sendiri, maupun dibisniskan kembali. *gun


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost