Jakarta (BisnisBali) –PT Telekomunikasi Indonesia
Tbk (Telkom) akan menurunkan tarif ritel seluruh layanan rata-rata
sekitar 20 persen, menyusul implementasi penurunan tarif interkoneksi
berbasis biaya yang akan berlaku mulai 1 April 2008.
"Tarif telepon akan turun rata-rata 20 persen, untuk
semua jenis layanan seperti tarif selular (Telkomsel), telepon
tetap nirkabel (FWA/Flexi)," kata Direktur Enterprises
and Wholesale Services Telkom, Arief Yahya, di Jakarta,
Jumat kemarin.
Pemerintah pada 4 Februari 2008, menetapkan tarif baru interkoneksi
berbasis biaya, yang berimplikasi penurunan tarif selular
antara 20-40 persen, sedangkan tarif telepon tetap antara
5-20 persen.
Penurunan tarif interkoneksi sekitar 20-40 persen merupakan
salah satu komponen dalam menentukan tarif pungut atas layanan
telekomunikasi kepada pelanggan.
Interkoneksi adalah keterhubungan antarjaringan telekomunikasi
originasi maupun terminasi dari penyelenggara jaringan telekomunikasi
yang berbeda.
Menurut Yahya, sesungguhnya tarif secara alamiah akan turun
apalagi setelah pemerintah menetapkan interkoneksi. "Selain
karena dorongan dari regulasi, penurunan tarif juga dipengaruhi
kompetisi antaroperator dan tuntutan pelanggan sehingga
mengharuskan operator lebih kompetitif," katanya.
Ia menjelaskan, Telkom telah menyerahkan daftar penawaran
interkoneksi (DPI) daftar yang menjadi acuan antaroperator
dalam menentukan tarif interkoneksi.
"DPI sudah diserahkan pada 27 Februari kepada regulator,
untuk selanjutnya dijadikan dasar pengambilan keputusan
oleh pemerintah dalam menetapkan tarif atas (ceiling) dan
tarif bawah untuk semua jenis layanan komunikasi,"
katanya.
Sementara itu, Dirut PT Telkomsel Kiskenda Suriahardja mengatakan,
DPI tersebut merupakan bagian formal penawaran perusahaan
kepada operator dan diketahui pemerintah sehingga lebih
transparan.
Meski begitu, Kiskenda mengklaim, penurunan tarif sesungguhnya
telah diimplementasikan, tercermin dari fitur-fitur layanan
kartu prabayar seperti Simpati PeDe, Simpati Ekstra yang
tarifnya lebih murah.
Kiskenda berpendapat, pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkan
bahwa penurunan tarif akan menggerus pendapatan perusahaan.
"Pada penurunan tarif tersebut ada elastitisnya yaitu
akan menambah jumlah pelanggan. Dengan demikian tidak bisa
disebutkan bahwa penurunan tarif akan menurunkan pendapatan
perusahaan," katanya tanpa merinci berapa besar revenue
perusahaan.
Ia juga enggan menyebutkan berapa besar pertumbuhan pelanggan
akibat realiasisi penurunan tarif tersebut. Kiskenda hanya
menyebutkan, bahwa pada 2008 Telkomsel menargetkan penambahan
pelanggan sekitar sembilan juta nomor, dari akhir tahun
2007 sekitar 47,8 juta nomor, dan mencapai 50 juta nomor
pada pertengahan Februari 2008.
Sebelumnya, Dirut PT Excelcomindo Pratama (XL) Hasnul Suhaimi
mengatakan, sejak tahun 2004 perusahaannya juga telah menurunkan
tarif layanan.
Tarif rata-rata XL tahun 2008 diturunkan menjadi sekitar
Rp 400 per menit, lebih rendah dibanding tahun 2007 yaitu
Rp 540 per menit, tahun 2006 rata-rata Rp 880 per menit,
tahun 2005 rata-rata Rp 1.160 per menit, dan tahun 2004
rata-rata Rp 1.560 per menit.
Pada akhir 2007, jumlah pelanggan seluler XL tercatat 15,5
juta nomor, naik 62 persen dibanding 9,5 juta nomor pada
akhir 2006. *ant