01 Maret 2008  
Home
Berita Terkini

 

Hemat Listrik, Cegah Pemanasan Global
Sanur (BisnisBali) –Salah satu upaya untuk mencegah perubahan iklim adalah menghemat penggunaan alat-alat elektronik atau listrik. Alat-alat elektronik atau listrik merupakan penyumbang CO2.

“Perubahan iklim merupakan akibat dari pemanasan global yang dipicu oleh efek rumah kaca. Efek emisi gas rumah kaca (GRK) ini akibat karbondioksida (CO2) yang tinggi,” kata Arief Yuwono, Sekretaris Menteri Negara Lingkungan Hidup belum lama ini.

Mengurangi GRK, menurutnya, bisa dilakukan oleh semua warga bumi. Penghematan energi listrik melalui beberapa cara, misalnya mematikan lampu, telivisi, radio, dan komputer pada saat tidak digunakan, menggantikan bola lampu dengan jenis TL yang hemat energi.

Salah satu contoh positif yang dapat menjadi acuan dalam mengurangi dampak dari perubahan iklim adalah adanya hari raya Nyepi di Bali. Nyepi bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pemanasan global. Nyepi juga berdampak besar terhadap penghematan energi listrik sehingga dapat mencengah terjadinya krisis listrik yang mengancam saat ini.

“Ini yang perlu ditiru semua daerah, baik nasional maupun dunia,” ujarnya.
Ia menyampaikan, ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi perubahan iklim, yakni transportasi, industri, dan rumah tangga. Ketiganya penyumbang emisi CO2.

Dalam hal transportasi misalnya, sebaiknya penggunaan transportasi masal makin dibenahi sehingga masyarakat nyaman menggunakan transportasi. “Dampak gas buang dari kendaraan juga mempercepat terjadinya perubahan iklim,” jelasnya.

Selain itu, katanya, pohon juga sangat efektif mencegah perubahan iklim sehingga penanaman pohon sangat efektif. Namun, penanaman pohon tidak akan efektif mencegah perubahan iklim ketika di satu sisi penebangan pohon juga dilakukan secara massa.

Agung Kerdiawan, peserta rapat kerja rencana aksi nasional dalam menghadapi perubahan iklim sependapat. Guna mengurangi emisi CO2 lewat penghematan energi listrik merupakan cara terbaik saat ini yang bisa dilakukan masyarakat.

“Jika saja hemat energi itu bisa menjadi gerakan sosial, niscaya akan mengurangi konsumsi energi secara signifikan. Masyarakat tidak perlu takut adanya kebijakan tarif disinsentif listrik jika benar-benar dilakukan,” ucapnya.

Ia menambahkan, upaya efisiensi energi memiliki manfaat ganda, yakni menghemat uang dan menghemat penggunaan energi konvensional yang jumlahnya makin menipis. Pada gilirannya, gerakan itu akan bisa mengurangi jumlah GRK di atmosfer.

Secara teoretis, efisiensi energi relatif lebih mudah dilakukan ketimbang mengembangkan energi baru seperti pembangkit tenaga surya dan angin, yang biaya instalasinya masih mahal. “Namun, semuanya berpulang kepada kita semua. Bersediakah memulai untuk menyelamatkan bumi tempat penerus kita hidup,” paparnya. *dik

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost