Sanur (BisnisBali) –Salah satu upaya untuk
mencegah perubahan iklim adalah menghemat penggunaan alat-alat
elektronik atau listrik. Alat-alat elektronik atau listrik
merupakan penyumbang CO2.
“Perubahan iklim merupakan akibat dari pemanasan global
yang dipicu oleh efek rumah kaca. Efek emisi gas rumah kaca
(GRK) ini akibat karbondioksida (CO2) yang tinggi,”
kata Arief Yuwono, Sekretaris Menteri Negara Lingkungan Hidup
belum lama ini.
Mengurangi GRK, menurutnya, bisa dilakukan oleh semua warga
bumi. Penghematan energi listrik melalui beberapa cara, misalnya
mematikan lampu, telivisi, radio, dan komputer pada saat tidak
digunakan, menggantikan bola lampu dengan jenis TL yang hemat
energi.
Salah satu contoh positif yang dapat menjadi acuan dalam mengurangi
dampak dari perubahan iklim adalah adanya hari raya Nyepi
di Bali. Nyepi bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi
pemanasan global. Nyepi juga berdampak besar terhadap penghematan
energi listrik sehingga dapat mencengah terjadinya krisis
listrik yang mengancam saat ini.
“Ini yang perlu ditiru semua daerah, baik nasional maupun
dunia,” ujarnya.
Ia menyampaikan, ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi
perubahan iklim, yakni transportasi, industri, dan rumah tangga.
Ketiganya penyumbang emisi CO2.
Dalam hal transportasi misalnya, sebaiknya penggunaan transportasi
masal makin dibenahi sehingga masyarakat nyaman menggunakan
transportasi. “Dampak gas buang dari kendaraan juga
mempercepat terjadinya perubahan iklim,” jelasnya.
Selain itu, katanya, pohon juga sangat efektif mencegah perubahan
iklim sehingga penanaman pohon sangat efektif. Namun, penanaman
pohon tidak akan efektif mencegah perubahan iklim ketika di
satu sisi penebangan pohon juga dilakukan secara massa.
Agung Kerdiawan, peserta rapat kerja rencana aksi nasional
dalam menghadapi perubahan iklim sependapat. Guna mengurangi
emisi CO2 lewat penghematan energi listrik merupakan cara
terbaik saat ini yang bisa dilakukan masyarakat.
“Jika saja hemat energi itu bisa menjadi gerakan sosial,
niscaya akan mengurangi konsumsi energi secara signifikan.
Masyarakat tidak perlu takut adanya kebijakan tarif disinsentif
listrik jika benar-benar dilakukan,” ucapnya.
Ia menambahkan, upaya efisiensi energi memiliki manfaat ganda,
yakni menghemat uang dan menghemat penggunaan energi konvensional
yang jumlahnya makin menipis. Pada gilirannya, gerakan itu
akan bisa mengurangi jumlah GRK di atmosfer.
Secara teoretis, efisiensi energi relatif lebih mudah dilakukan
ketimbang mengembangkan energi baru seperti pembangkit tenaga
surya dan angin, yang biaya instalasinya masih mahal. “Namun,
semuanya berpulang kepada kita semua. Bersediakah memulai
untuk menyelamatkan bumi tempat penerus kita hidup,”
paparnya. *dik