Tabanan (BisnisBali) –Menjelang perayaan Hari
Raya Nyepi Tahun Saka 1930, permintaan dupa mengalami kenaikan
yang tajam. Pasalnya, dupa sebagai salah satu komponen upakara
di daerah ini dibutuhkan masyarakat. Kondisi tersebut membuat
sejumlah perajin dupa sumringah, karena omzet mereka merangkak
naik.
Nyoman Sutapa, salah seorang perajin dupa di Desa Belayu,
Marga mengaku, omzetnya sudah mengalami kenaikan sejak beberapa
hari menjelang perayaan Nyepi. ‘’Terus-terang
kami sudah merasakan adanya peningkatan permintaan. Hal ini
dibuktikan dengan banyaknya permintaan pelanggan kami yang
datang ke sini,” ujarnya.
Menghadapi kondisi seperti itu, tidak membuat kaget karena
antisipasi dan stok barang sudah dilakukan jauh-jauh hari.
Dupa-dupa yang sudah kering disimpan di gudang. ‘’Kalau
ada permintaan agak melonjak kita tinggal beri pewangi dan
dikemas dalam bungkusnya. Barang sudah siap memenuhi permintaan
yang ada,” imbuhnya.
Hal senada diungkapkan Wayan Sandiana, perajin serupa di Marga.
Permintaan akan dupa cukup bagus, apalagi menjelang perayaan
hari-hari besar keagamaan seperti Nyepi.
‘’Kami sebagai perajin dupa tergantung dari perayaan
hari-hari besar keagamaan, karena momen itu banyak menyerap
dupa. Kalau hari-hari biasa sih ada, namun jumlahnya tidak
begitu banyak,” ungkapnya.
Disinggung banyaknya perajin dupa di daerah ini, Sutapa mengaku,
tidak pernah merasa disaingi. Karena ia sudah memiliki trade
mark tersendiri. “Kenapa mesti gusar. Kami sudah memiliki
segmen pasar khusus. Biarkan saja, pasar yang akan menyeleksi
produk-produk yang hadir belakangan dari kita,” paparnya.
Ditambahkan, sebagai pemain lama di kerajinan dupa selalu
konsen dengan aroma yang ditawarkan. Karena masyarakat pembeli
dupa banyak berharap dari aroma yang dihembuskan.
Disinggung upaya menggarap pasar, Sutapa mengaku, harus pintar
melihat permintaan pasar. Kalau kemampuan daya serap pasar
sangat lemah, perajin harus menyikapi dengan mengemas dupa
dalam kemasan mini dengan harga terjangkau.
‘’Jangan buat kemasan gede-gede dengan harga mahal,
sehingga akan susah diserap pasar. Kalau di pasaran laku kemasan
Rp 2.000 per bungkus, ya kita harus sikapi dengan bijak,”
ungkapnya. *can
|