29 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Jelang Nyepi, Permintaan Dupa Naik Tajam
Tabanan (BisnisBali) –Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1930, permintaan dupa mengalami kenaikan yang tajam. Pasalnya, dupa sebagai salah satu komponen upakara di daerah ini dibutuhkan masyarakat. Kondisi tersebut membuat sejumlah perajin dupa sumringah, karena omzet mereka merangkak naik.

Nyoman Sutapa, salah seorang perajin dupa di Desa Belayu, Marga mengaku, omzetnya sudah mengalami kenaikan sejak beberapa hari menjelang perayaan Nyepi. ‘’Terus-terang kami sudah merasakan adanya peningkatan permintaan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya permintaan pelanggan kami yang datang ke sini,” ujarnya.

Menghadapi kondisi seperti itu, tidak membuat kaget karena antisipasi dan stok barang sudah dilakukan jauh-jauh hari. Dupa-dupa yang sudah kering disimpan di gudang. ‘’Kalau ada permintaan agak melonjak kita tinggal beri pewangi dan dikemas dalam bungkusnya. Barang sudah siap memenuhi permintaan yang ada,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Wayan Sandiana, perajin serupa di Marga. Permintaan akan dupa cukup bagus, apalagi menjelang perayaan hari-hari besar keagamaan seperti Nyepi.

‘’Kami sebagai perajin dupa tergantung dari perayaan hari-hari besar keagamaan, karena momen itu banyak menyerap dupa. Kalau hari-hari biasa sih ada, namun jumlahnya tidak begitu banyak,” ungkapnya.

Disinggung banyaknya perajin dupa di daerah ini, Sutapa mengaku, tidak pernah merasa disaingi. Karena ia sudah memiliki trade mark tersendiri. “Kenapa mesti gusar. Kami sudah memiliki segmen pasar khusus. Biarkan saja, pasar yang akan menyeleksi produk-produk yang hadir belakangan dari kita,” paparnya.

Ditambahkan, sebagai pemain lama di kerajinan dupa selalu konsen dengan aroma yang ditawarkan. Karena masyarakat pembeli dupa banyak berharap dari aroma yang dihembuskan.

Disinggung upaya menggarap pasar, Sutapa mengaku, harus pintar melihat permintaan pasar. Kalau kemampuan daya serap pasar sangat lemah, perajin harus menyikapi dengan mengemas dupa dalam kemasan mini dengan harga terjangkau.

‘’Jangan buat kemasan gede-gede dengan harga mahal, sehingga akan susah diserap pasar. Kalau di pasaran laku kemasan Rp 2.000 per bungkus, ya kita harus sikapi dengan bijak,” ungkapnya. *can
  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost