Badung (BisnisBali) –Keinginan sebagian pengembang
mengalihkan investasi mereka dari perumahan ke vila, tak semudah
yang dibayangkan. Salah satu kendala yang dihadapi yakni,
sulitnya mendapatkan lahan dengan pemandangan yang cocok untuk
dibangun vila, di samping tak semua lahan nonproduktif masyarakat
khususnya yang berlokasi di pinggiran sungai, dan lainnya
mau dijual.
Demikian antara lain diungkapkan salah seorang pengembang
Wayan Suharta, S.E., Kamis (28/2) kemarin. Katanya, ini merupakan
tantangan bagi pengembang. Pengembang harus lebih banyak menyebar
informan untuk melacak keberadaan lahan-lahan nonproduktif
yang mau dijual pemiliknya.
Ini perlu proses yang cukup lama, karena umumnya lahan-lahan
nonproduktif tapi memiliki pemandangan bagus untuk dibangun
vila berada di tengah-tengah perkampungan masyarakat, juga
berada di antara persawahan atau ladang dengan kendala tak
adanya fasilitas jalan yang memadai.
Menurutnya, fasilitas jalan yang memadai untuk investasi vila,
paling tidak memiliki lebar lima atau enam meter. Ini penting,
untuk memudahkan akses transportasi khususnya kendaraan berbadan
lebar seperti bus, atau angkutan wisata lainnya.
‘’Beberapa lahan nonproduktif masyarakat dengan
view strategis untuk dibangun vila, kini telah berhasil dikuasai
pengembang. Beberapa tempat itu, ada di kawasan Mengwi, Canggu,
dan lainnya. Perkembangannya sekarang sudah dirasakan masyarakat
sekitar, sehingga banyak pemilik lahan yang sama tak mau cepat-cepat
menjualnya, karena mereka pikir ke depannya akan makin mahal,’’
imbuh Suharta.
Di tempat terpisah, pengembang lainnya, Agus Parwata mengaku,
banyak kendala yang dihadapi untuk berhasil membebaskan lahan
nonproduktif masyarakat guna di bangun vila.
Selain harganya kini sudah makin mahal, seiring makin meningkatnya
pemahaman masyarakat soal bisnis tanah, juga harus melibatkan
banyak pemilik lahan yang belum tentu mau menjual tanah mereka
guna dibuat jalan menuju lokasi yang mau dibangun vila.
‘’Investasi vila memerlukan kesiapan dana yang
cukup. Sebab bukan saja biaya pembangunan fisik (vila) yang
harus disiapkan, namun juga biaya jalan yang harus dibeli
dari beberapa pemilik lahan lainnya,’’ tambahnya.
Menurutnya, perlu kehati-hatian untuk bisa berinvestasi vila,
karena ketika vila itu berhasil dibangun pemasaran harus sudah
siap, dengan demikian biaya investasi cepat bisa diputar untuk
mendatangkan hasil atau keuntungan yang diharapkan.
Dia mengatakan, jika investasi vila rata-rata memanfaatkan
15 are tanah, dengan harga tanah saat ini Rp 55 hingga Rp
60 juta, tentu dapat dihitung berapa biaya yang diperlukan,
belum lagi untuk pembangunan fisik.
Namun demikian dia optimis, banyak pengembang yang cukup modal
untuk itu, sehingga yang diperlukan ke depannya yakni strategi
bisnis untuk lebih cepat mengelola investasi ini sehingga
keuntungan dapat diraih. * gun
|