29 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Pengembang Kesulitan Cari Lahan untuk Vila
Badung (BisnisBali) –Keinginan sebagian pengembang mengalihkan investasi mereka dari perumahan ke vila, tak semudah yang dibayangkan. Salah satu kendala yang dihadapi yakni, sulitnya mendapatkan lahan dengan pemandangan yang cocok untuk dibangun vila, di samping tak semua lahan nonproduktif masyarakat khususnya yang berlokasi di pinggiran sungai, dan lainnya mau dijual.

Demikian antara lain diungkapkan salah seorang pengembang Wayan Suharta, S.E., Kamis (28/2) kemarin. Katanya, ini merupakan tantangan bagi pengembang. Pengembang harus lebih banyak menyebar informan untuk melacak keberadaan lahan-lahan nonproduktif yang mau dijual pemiliknya.

Ini perlu proses yang cukup lama, karena umumnya lahan-lahan nonproduktif tapi memiliki pemandangan bagus untuk dibangun vila berada di tengah-tengah perkampungan masyarakat, juga berada di antara persawahan atau ladang dengan kendala tak adanya fasilitas jalan yang memadai.

Menurutnya, fasilitas jalan yang memadai untuk investasi vila, paling tidak memiliki lebar lima atau enam meter. Ini penting, untuk memudahkan akses transportasi khususnya kendaraan berbadan lebar seperti bus, atau angkutan wisata lainnya.

‘’Beberapa lahan nonproduktif masyarakat dengan view strategis untuk dibangun vila, kini telah berhasil dikuasai pengembang. Beberapa tempat itu, ada di kawasan Mengwi, Canggu, dan lainnya. Perkembangannya sekarang sudah dirasakan masyarakat sekitar, sehingga banyak pemilik lahan yang sama tak mau cepat-cepat menjualnya, karena mereka pikir ke depannya akan makin mahal,’’ imbuh Suharta.

Di tempat terpisah, pengembang lainnya, Agus Parwata mengaku, banyak kendala yang dihadapi untuk berhasil membebaskan lahan nonproduktif masyarakat guna di bangun vila.

Selain harganya kini sudah makin mahal, seiring makin meningkatnya pemahaman masyarakat soal bisnis tanah, juga harus melibatkan banyak pemilik lahan yang belum tentu mau menjual tanah mereka guna dibuat jalan menuju lokasi yang mau dibangun vila.

‘’Investasi vila memerlukan kesiapan dana yang cukup. Sebab bukan saja biaya pembangunan fisik (vila) yang harus disiapkan, namun juga biaya jalan yang harus dibeli dari beberapa pemilik lahan lainnya,’’ tambahnya.

Menurutnya, perlu kehati-hatian untuk bisa berinvestasi vila, karena ketika vila itu berhasil dibangun pemasaran harus sudah siap, dengan demikian biaya investasi cepat bisa diputar untuk mendatangkan hasil atau keuntungan yang diharapkan.

Dia mengatakan, jika investasi vila rata-rata memanfaatkan 15 are tanah, dengan harga tanah saat ini Rp 55 hingga Rp 60 juta, tentu dapat dihitung berapa biaya yang diperlukan, belum lagi untuk pembangunan fisik.

Namun demikian dia optimis, banyak pengembang yang cukup modal untuk itu, sehingga yang diperlukan ke depannya yakni strategi bisnis untuk lebih cepat mengelola investasi ini sehingga keuntungan dapat diraih. * gun
  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost