Pertama
kali pelukis yang lahir pada 9 Februari 1880 di Ixelles, Brussel,
Le Mayeur menginjakkan kaki di Bali pada tahun 1932 melalui
jalan laut dan mendarat di Singaraja kemudian melanjutkan
perjalanan ke Denpasar, dengan menyewa sebuah rumah di Desa
Kelandis.
Pelukis bernama lengkap Andrien Jean Le Mayeur De Merpres
kemudian berkenalan dengan seorang penari legong bernama Ni
Nyoman Pollok di tempat ia menyewa rumah. Kecantikan dan keanggunan
Ni Pollok menggugah hati Le Mayeur untuk menjadikan Ni Pollok
model dalam lukisannya.
Seiring dengan perjalanan waktu hubungan Le Mayeur dengan
Ni Pollok berlanjut ke jenjang pernikahan. Dari mengikuti
pameran di Singapura, Le Mayeur kemudian membeli sebidang
tanah seluas 20,6 are di Pantai Sanur. Di tempat ini kemudian
Le Mayeur membangun rumah. Ruang induk terdiri dari ruang
tamu, ruang keluarga, studio, kamar tidur dan kamar mandi.
Ketenaran Le Mayeur makin lama makin meningkat. Ini terbukti
dengan banyaknya kunjungan-kunjungan dan bahkan dari pejabat
tinggi negara salah satunya Presiden RI pertama Ir. Soekarno.
Pada tahun 1956 Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan
RI yaitu Bahder Djohan berkunjung ke rumah dan terkesan dengan
karya seni Le Mayeur.
Kemudian mencetuskan gagasan untuk menjadikan rumah tinggal
Le Mayeur sebagai museum agar karya seninya dapat dilestarikan.
Gagasan ini disambut baik oleh Le Mayeur.
Pada awal tahun 50-an, kondisi kesehatan Le Mayeur mulai menurun
dan pada Maret 1958 Le Mayeur berobat ke Belgia didampingi
istrinya. Pada 27 Mei 1958 Le Mayeur Sang Maestro yang berusia
78 tahun itu meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan di
pemakaman keluarga Ixelles, Brussel. Pengelolaan selanjutnya
dilakukan oleh Ni Pollok.
Pada 27 Juli 1985 Ni Pollok meninggal dunia, perusahaan seni
lukis ditinggalkannya kini milik Pemerintah Indonesia yang
dikelola oleh Pemerintah Daerah Propinsi Bali. Rumah beserta
isinya sekarang menjadi Museum Le Mayeur. *pwt
|