Amlapura (BisnisBali) -Abrasi yang menghantam pesisir
utara Karangasem belum lama ini berimbas hanyutnya lahan penguyahan
(bedeng untuk membuat garam) milik petani garam di kawasan
Kubu. Ratusan petani yang tergabung dalam beberapa kelompok
penggaram hanya bisa gigit jari ketika mengetahui penguyahan
mereka habis digerus ombak.
”Perlu modal jutaan rupiah untuk membuat lahan baru,
terutama untuk membeli tanah yang akan digunakan sebagai media
membuat garam,” ujar I Ketut Gempol salah seorang petani
garam di Tianyar Tengah, Kubu belum lama ini.
Menurut dia kegiatan turun temurun yang ditekuni sebagian
warga pesisir itu kini terancam bangkrut. Bagaimana tidak
selain lahan, sejumlah peralatan yang digunakan untuk meproduksi
garam banyak yang rusak akibat dihantam obak besar.
Tinjung misalnya, alat yang digunakan untuk menyaring air
laut harganya mencapai Rp 300.000 per buah. Sedang kolang
atau bak penampung dan palungan harganya tidak jauh beda.
Sementara harga jual garam hasil pengolahan air laut berkisar
Rp 1.000 - Rp 2.000 per kilonya.
Hal senada disampaikan I Gede Rindi, petani garam lainnya.
Menurut dia, untuk mendapatkan garam siap jual membutuhkan
waktu 5-7 hari dengan hasil sekali sekitar 200 kg yang dibeli
oleh seorang pengepul di daerah itu. ”Kalau cuaca mendung
bisa lebih lama, karena untuk penjemuran dibutuhkan sinar
matahari yang cukup,” terangnya.
Aktivitas petani garam lanjut Rindi berlangsung selama tiga
bulan yakni antara Agustus hingga November. Namun abrasi yang
menghantam kawasan pantai yang menggerus daratan hingga 15
meter itu kontan membuat petani setempat terancam kehilangan
mata pencaharian di sela pekerjaan sebagai nelayan. *rah
|