29 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

::Potensi
Petani Garam Karangasem Gigit Jari
Amlapura (BisnisBali) -Abrasi yang menghantam pesisir utara Karangasem belum lama ini berimbas hanyutnya lahan penguyahan (bedeng untuk membuat garam) milik petani garam di kawasan Kubu. Ratusan petani yang tergabung dalam beberapa kelompok penggaram hanya bisa gigit jari ketika mengetahui penguyahan mereka habis digerus ombak.

”Perlu modal jutaan rupiah untuk membuat lahan baru, terutama untuk membeli tanah yang akan digunakan sebagai media membuat garam,” ujar I Ketut Gempol salah seorang petani garam di Tianyar Tengah, Kubu belum lama ini.

Menurut dia kegiatan turun temurun yang ditekuni sebagian warga pesisir itu kini terancam bangkrut. Bagaimana tidak selain lahan, sejumlah peralatan yang digunakan untuk meproduksi garam banyak yang rusak akibat dihantam obak besar.

Tinjung misalnya, alat yang digunakan untuk menyaring air laut harganya mencapai Rp 300.000 per buah. Sedang kolang atau bak penampung dan palungan harganya tidak jauh beda. Sementara harga jual garam hasil pengolahan air laut berkisar Rp 1.000 - Rp 2.000 per kilonya.

Hal senada disampaikan I Gede Rindi, petani garam lainnya. Menurut dia, untuk mendapatkan garam siap jual membutuhkan waktu 5-7 hari dengan hasil sekali sekitar 200 kg yang dibeli oleh seorang pengepul di daerah itu. ”Kalau cuaca mendung bisa lebih lama, karena untuk penjemuran dibutuhkan sinar matahari yang cukup,” terangnya.

Aktivitas petani garam lanjut Rindi berlangsung selama tiga bulan yakni antara Agustus hingga November. Namun abrasi yang menghantam kawasan pantai yang menggerus daratan hingga 15 meter itu kontan membuat petani setempat terancam kehilangan mata pencaharian di sela pekerjaan sebagai nelayan. *rah

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost