Sanur (BisnisBali) –Pada tahun-tahun belakangan
ini, umat manusia di dunia akan dihadapkan pada suatu ancaman
global yang belum pernah dihadapi generasi terdahulu. Pemanasan
global yang memicu terjadinya perubahan iklim bumi telah menyebabkan
perubahan terhadap fisisk dan biologis bumi.
“Bercermin pada hal ini, sebagai salah satu negara yang
rentan terhadap dampak perubahan iklim, Indonesia sangat berkepentingan
dalam usaha penanggulangan pemanasan global dan perubahan
iklim yang menyertainya.
Caranya, Indonesia bertekad menurunkan emisi gas rumah kaca
(GRK) di sektor energi dan LULUCF (land use, land use change
and forestry) serta meningkatkan absorsi karbon,” kata
Arief Yuwono, Sekretaris Menteri Negara Lingkungan Hidup di
sela-sela rapat kerja Rencana Aksi Nasional Dalam Menghadapi
Perubahan Iklim di Sanur, Kamis (28/2) kemarin.
Arief mengakui, emisi gas rumah kaca menimbulkan pemanasan
global. Pemanasan global menimbulkan perubahan iklim. Perubahan
iklim akan berdampak pada kehidupan manusia. “Siapa
yang menyababkan ini semua tentu manusia. Karena itu, manusia
juga diharapkan dapat menyelamatkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sudah saatnya kita semua memperbaiki pola
pembangunan yang selama ini dilakukan. Paradigma lingkungan
harus diinternalisasikan dalam berbagai sektor pembangunan
seperti di sektor energi, pengelolaan hutan dan sumber daya
alam, pertanian, perkebunan, tata ruang dan infrastruktur.
Bagaimana cara mengantisipasi dampak perubahan iklim? Menurut
dia, meliputi mitigasi dan adaptasi. Adaptasi adalah menyesuaikan
diri. Upaya adaptasi harus disertai upaya mitigasi karena
upaya adaptasi tidak akan dapat efektif apabila laju perubahan
iklim melebihi kemampuan berdaptasi. Mitigasi merupakan upaya
mengurangi laju emisi GRK dari berbagai sumber dan meningkatkan
laju penyerapan.
“Cara kongkret agar semua itu dapat terwujud langkah
nyata yang bisa dilakukan tergantung perubahan sikap dan perilaku
manusia. Selain mengurangi emisi GRK, dengan cara menghemat
energi, mengurangi penggunaan kendaraan dan sering menanam
pohon,” ucapnya.
Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Bali dan
Nusa Tenggara, Ir. R. Sudirman pada kesempatan sama mengatakan,
penurunan emisi GRK di sektor energi membutuhkan teknologi
yang hemat energi dan rendah emisi dalam sektor pembangkit
listrik, transportasi serta rumah tangga dan komersial. Sementara
Bali harus konsisten pada penataan tata ruangnya.
“Di samping tentunya banyak melakukan kegiatan menanam
pohon kandungan air sudah mengalami penurunan. Hemat BBM dan
bijak menggunakan moda transportasi (penggantian bahan bakar,
teknologi kendaraan rendah emisi, teknologi transportasi hemat
energi). Sektor industri melalui penghematan energi, teknologi
penghematan air,” jelas Sudirman. *dik