29 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Emisi GRK harus Dikurangi Atasi Perubahan Iklim Global
Sanur (BisnisBali) –Pada tahun-tahun belakangan ini, umat manusia di dunia akan dihadapkan pada suatu ancaman global yang belum pernah dihadapi generasi terdahulu. Pemanasan global yang memicu terjadinya perubahan iklim bumi telah menyebabkan perubahan terhadap fisisk dan biologis bumi.

“Bercermin pada hal ini, sebagai salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, Indonesia sangat berkepentingan dalam usaha penanggulangan pemanasan global dan perubahan iklim yang menyertainya.

Caranya, Indonesia bertekad menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor energi dan LULUCF (land use, land use change and forestry) serta meningkatkan absorsi karbon,” kata Arief Yuwono, Sekretaris Menteri Negara Lingkungan Hidup di sela-sela rapat kerja Rencana Aksi Nasional Dalam Menghadapi Perubahan Iklim di Sanur, Kamis (28/2) kemarin.

Arief mengakui, emisi gas rumah kaca menimbulkan pemanasan global. Pemanasan global menimbulkan perubahan iklim. Perubahan iklim akan berdampak pada kehidupan manusia. “Siapa yang menyababkan ini semua tentu manusia. Karena itu, manusia juga diharapkan dapat menyelamatkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sudah saatnya kita semua memperbaiki pola pembangunan yang selama ini dilakukan. Paradigma lingkungan harus diinternalisasikan dalam berbagai sektor pembangunan seperti di sektor energi, pengelolaan hutan dan sumber daya alam, pertanian, perkebunan, tata ruang dan infrastruktur.

Bagaimana cara mengantisipasi dampak perubahan iklim? Menurut dia, meliputi mitigasi dan adaptasi. Adaptasi adalah menyesuaikan diri. Upaya adaptasi harus disertai upaya mitigasi karena upaya adaptasi tidak akan dapat efektif apabila laju perubahan iklim melebihi kemampuan berdaptasi. Mitigasi merupakan upaya mengurangi laju emisi GRK dari berbagai sumber dan meningkatkan laju penyerapan.

“Cara kongkret agar semua itu dapat terwujud langkah nyata yang bisa dilakukan tergantung perubahan sikap dan perilaku manusia. Selain mengurangi emisi GRK, dengan cara menghemat energi, mengurangi penggunaan kendaraan dan sering menanam pohon,” ucapnya.

Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Bali dan Nusa Tenggara, Ir. R. Sudirman pada kesempatan sama mengatakan, penurunan emisi GRK di sektor energi membutuhkan teknologi yang hemat energi dan rendah emisi dalam sektor pembangkit listrik, transportasi serta rumah tangga dan komersial. Sementara Bali harus konsisten pada penataan tata ruangnya.

“Di samping tentunya banyak melakukan kegiatan menanam pohon kandungan air sudah mengalami penurunan. Hemat BBM dan bijak menggunakan moda transportasi (penggantian bahan bakar, teknologi kendaraan rendah emisi, teknologi transportasi hemat energi). Sektor industri melalui penghematan energi, teknologi penghematan air,” jelas Sudirman. *dik

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost