Bangli (BisnisBali) -Kematian ikan nila
yang terjadi tiap hari di sejumlah jakapung atau keramba
di kawasan Danau Batur diduga disebabkan oleh bekas pakan
ikan yang banyak mengendap di bawah keramba apung.
Hal ini menyebabkan terjadi proses kimia di dasar keramba
yang menyebabkan munculnya amoniak yang berakibat ikan mati.
Demikian disampaikan kepala Dinas Perikanan dan Peternakan
Bangli Drh. I Wayan Sutapa, Ms didampingi Kabag Humas dan
Protokol Drs. I Dewa Gede Supartha, M.M., menjawab pertanyaan
wartawan Kamis (28/2) kemarin.
Sutapa mengatakan, meski terjadi kasus itu pihaknya berharap
agar petani ikan yang menerima bantuan permodalan dari pemerintah
melalui BRI jangan sampai melupakan kewajibannya untuk membayar
cicilan.
” Kami khawatir jangan sampai kasus ini dijadikan
alasan petani ikan untuk tidak membayar cicilan bantuan
pemerintah melalui BRI,” harap Sutapa. Sebab, lanjutnya,
bantuan tanpa agunan yang telah diterima petani ikan tersebut
selain akan membawa citra, juga akan sangat berpengaruh
pada bantuan permodalan lainnya yang kemungkinan akan dikucurkan
pemerintah.
”Jangan sampai dengan alasan itu, pengembalian bantuan
permodalan tanpa agunan itu mandek yang tentunya bisa membawa
konsekuensi baik bagi petani maupun pemerintah kabupaten,”
harap Sutapa.
Sesungguhnya, lanjut Sutapa untuk mencegah kasus kematian
ikan tersebut bisa dilakukan petani dengan cara memindahkan
lokasi jakapung atau keramba miliknya. ”Dengan cara
seperti itu, konsentrasi proses kimia bekas pakan ikan tidak
akan berpengaruh pada ikan. Sebab ikan telah menempati lokasi
baru,” tegasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Drs. I Gede Parwata salah
seorang pemilik japakung dan keramba ikan nila gip di kawasan
Danau Batur sempat mengeluhkan kasus kematian ikan yang
dibudidayakan di jakapung atau keramba. Meski jumlah ikan
yang mati tidak sampai mencapai 1%, namun hal ini tentunya
membuat petani ikan cukup khawatir akan kelangsungan nasib
mereka. *jel
|