Denpasar (BisnisBali) - Kecilnya alokasi dana untuk
kegiatan promosi pariwisata Bali tahun ini harus menjadi cambuk
bagi semua komponen yang ada untuk mencari solusi terbaik
atas persoalan tersebut.
Agar kegiatan promosi wisata yang dilakukan bisa efektif dan
efisien koordinasi antara pemerintah baik itu pusat, Bali
dan tingkat II dengan pelaku usaha dan masyarakat harus segera
diperbaiki.
Selama ini kegiatan promosi wisata Bali masih kurang terkoordinasi
atau terkesan jalan sendiri-sendiri. Demikian dikatakan Ketua
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bali Panudiana Kuhn
Rabu (20/2) kemarin.
Menurut Praktisi Pariwisata ini koordinasi yang tidak jalan
ini menyebabkan kegiatan promosi yang dilakukan sering salah
sasaran dan tidak efektif. Peran untuk mengkoordinir ini sebaiknya
diambil oleh pemerintah terutama pemerintah propinsi Bali.
Ia yakin bila hal itu bisa dilakukan maka kendala keterbatasan
dana promosi yang dialami akan lebih mudah untuk dipecahkan.
Ia mengakui kondisi pariwisata dan bisnis di Bali ini belakangan
ini telah menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Tingkat
hunian hotel baik itu bintang dan melati dalam beberapa bulan
belakangan ini cukup stabil di level yang cukup tinggi. “Bila
hal ini ingin terus berlanjut maka semua pihak harus bekerjasama
untuk meyakinkan wisatawan untuk datang ke Bali,”jelasnya.
Terkait keluhan wisatawan dan investor, Kuhn mengatakan masalah
keamanan dan proses perijinan yang berbelit yang paling dikeluhkan
oleh wisatawan.
Untuk perizinan sampai saat ini masih dirasakan amat panjang
dan cenderung berujung pada biaya ekonomi tinggi. Belum ada
kejelasan berapa waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan
izin usaha atau yang lainnya.
“Pajak yang tinggi dan banyak pernah dikeluhkan oleh
para investor vila,”ujarnya seraya mengharapkan hal
itu segera dibenahi dengan memotong jalur birokasi yang dirasa
masih panjang dan mahal. *bia
|