Denpasar (BisnisBali) -Mulai Kamis (21/2) hari ini,
dipastikan listrik di Bali padam. Hal tersebut terjadi, karena
kapal yang membawa pasokan bahan bakar tidak bisa merapat
ke dermaga.
Untuk menghindari adanya pemadaman secara menyeluruh dan tenggang
waktu yang lama, masyarakat tetap diminta ikut berpartisipasi
dalam gerakan penghematan.
Kepala Humas PLN Distribusi Bali, Hendra Saleh, di Denpasar,
Rabu (22/2) kemarin mengatakan, badai Nicolas yang terjadi
belakangan ini, membuat kapal yang membawa pasokan bahan bakar
untuk pembangkit listrik, tidak dapat merapat ke masing-masing
dermaga. Akibatnya, pembangkit listrik dengan bahan bakar
minyak dan batubara tidak bisa dioperasikan.
‘’Menurut BMG, cuaca buruk ini akan terjadi hingga
akhir Februari dan kapal yang membawa bahan bakar tidak dapat
merapat ke masing-masing dermaga.
Pasokan bahan bakar otomatis tidak ada dan beberapa pembangkit
listrik seperti di Tanjung Jati dan Paiton terpaksa tidak
diaktifkan. Akibatnya listrik Jawa-Bali mengalami defisit
1.000 MW,’’ ujarnya, didampingi Supervisor Humas
PLN Distribusi Bali, IGAN Mastika.
Dari divisit 1.000 MW, kata Hendra, Bali kebagian defisit
100 MW. Sementara menggunaan listrik yang ada saat ini mencapai
440 MW. Terhadap kekurangan pasokan itu, kata dia, listrik
di daerah Bali juga mengalami pemadaman, mulai Kamis (21/2)
ini.
Namun untuk mengurangi limit waktu (durasi pemadaman) masyarakat
diminta untuk tetap melakukan penghematan. Mematikan lampu
50 watt di masing-masing pelanggan R1 dan 100 watt pada pelanggan
dengan daya 1.300 W.
‘’Pada Rabu kemarin sebenarnya sudah ada pemadaman,
cuma yang terkena hanya di daerah Padang Sambian, Pupuan dan
Kerambitan. Namun hari ini akan dilakukan pemadaman lebih
luas lagi,’’ ujarnya.
Lantas, bagaimana pola pemadaman listrik di Bali ini? Pemadaman
listrik di Bali, kata Hendra, dibagi menjadi 3 wilayah. Untuk
di wilayah Bali Selatan komposisi pemadamannya mencapai 50
persen. Wilayah Bali Timur dan Bali Utara, masing-masing sebesar
25 persen.
‘’Meski terjadi kondisi darurat, untuk fasilitas
umum seperti rumah sakit kita berikan prioritas supaya tidak
ada pemadaman listrik. Begitu pula ketika terjadi pelantikan
Bupati Gianyar pada Kamis ini, kita jaga agar listrik tetap
menyala,’’ ujarnya.
Tindakan pemadaman listrik, kata dia, juga berdampak terhadap
menurunnya penjualan listrik. Otomatis penggunaan listrik
di lingkungan masyarat juga berkurang.
‘’Sampai saat ini kita masih menjual listrik Rp
700 per kWh ke pelangggan. Sementara jumlah bahan bakar minyak
yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pembangkit listrik di
Bali mencapai 1,5 juta liter,’’ terangnya. *nat