21 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Tak Jual Produk BM, Bisnis Ponsel Bekas Menggairahkan
Denpasar (BisnisBali) –Telepon selular (ponsel) bekas yang dijual di sebuah konter bukan berasal dari produk black market (BM). Pebisnis ponsel bekas tetap menjaga kualitas produk, karena ini merupakan cara terbaik menghadapi persaingan yang tinggi. Karena itu, bisnis ponsel bekas tetap menggairahkan sampai saat ini.

“Terbukti permintaan masyarakat terhadap ponsel bekas pun tergolong tinggi,” kata Sandy, karyawan toko ponsel bekas di Denpasar, Rabu (20/2) kemarin.

Ia menerangkan, ponsel merupakan salah satu sarana komunikasi utama saat ini. Masyarakat dari semua golongan pun kini berusaha memenuhi kebutuhan informasi ini, tanpa terkecuali ponsel bekas.

“Bagi mereka yang tidak memiliki finansial lebih tentu memilih ponsel bekas. Alasannya, kualitas masih baik serta harga murah,” ujarnya. Permintaan ponsel bekas bisa mencapai 5-7 buah per hari. Harga di bawah Rp 1 juta mendominasi permintaan baik sistem GSM, CDMA maupun tren terbaru saat ini.

Sandy mengatakan, harga ponsel di pasaran dipengaruhi harga komponen dasarnya. Karena harga komponen dasar ini masih tinggi, harga ponsel di pasaran dilempar dengan harga cukup mahal. Keadaan inilah membuat ponsel BM bebas beredar. Ponsel BM adalah barang yang sudah dijual tidak memiliki standardisasi dari pabrikan.

“Peredaran ponsel BM ini memang merisaukan. Karena itu, kita tidak pernah menerima atau menjual ponsel BM,” tuturnya. Hal serupa dikatakan Mirah, karyawan toko ponsel lainnya. Bisnis ponsel bekas akan mendatangkan untung besar apabila produk yang dijual bukan BM.

“Peredaran ponsel BM hanya bisa diminimalisasi. Tidak dapat dihilangkan apalagi wilayah Indonesia begitu luas, sehingga ponsel BM bisa masuk ke mana saja,” jelasnya.

Berbicara soal pasar ponsel bekas, Mirah menyebutkan, masih didominasi oleh pasar menengah ke bawah. Indikatornya adalah dari ponsel yang paling laku adalah yang harganya di bawah Rp 1.000.000.

Lanjut ia memberikan kiat membeli ponsel bekas maupun baru. Konsumen harus teliti seperti periksa ponsel layar, aksesori bawaan, dan kartu garansi baik garansi resmi, toko maupun distributor.

Untuk ponsel BM biasanya dalam satu paket tidak terdapat standardisasi, sehingga boksnya bisa saja tidak mencantumkan merek vendornya. Isi pembeliannya kurang lebih charger, baterai, tidak ada buku manual (kalaupun ada petunjuknya tidak lengkap atau spesifik). Ada kartu garansi tetapi tidak berlaku di tempat resmi. Tidak ada aksesoris tambahan.

“Ada beberapa toko menawarkan garansi 1 tahun, tetapi hanya dapat dipakai di toko tersebut. Barang tersebut garansinya tidak lagi dijamin (jika toko tersebut tutup),” paparnya. *dik
  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost