Denpasar (BisnisBali) –Telepon selular (ponsel)
bekas yang dijual di sebuah konter bukan berasal dari produk
black market (BM). Pebisnis ponsel bekas tetap menjaga kualitas
produk, karena ini merupakan cara terbaik menghadapi persaingan
yang tinggi. Karena itu, bisnis ponsel bekas tetap menggairahkan
sampai saat ini.
“Terbukti permintaan masyarakat terhadap ponsel bekas
pun tergolong tinggi,” kata Sandy, karyawan toko ponsel
bekas di Denpasar, Rabu (20/2) kemarin.
Ia menerangkan, ponsel merupakan salah satu sarana komunikasi
utama saat ini. Masyarakat dari semua golongan pun kini berusaha
memenuhi kebutuhan informasi ini, tanpa terkecuali ponsel
bekas.
“Bagi mereka yang tidak memiliki finansial lebih tentu
memilih ponsel bekas. Alasannya, kualitas masih baik serta
harga murah,” ujarnya. Permintaan ponsel bekas bisa
mencapai 5-7 buah per hari. Harga di bawah Rp 1 juta mendominasi
permintaan baik sistem GSM, CDMA maupun tren terbaru saat
ini.
Sandy mengatakan, harga ponsel di pasaran dipengaruhi harga
komponen dasarnya. Karena harga komponen dasar ini masih tinggi,
harga ponsel di pasaran dilempar dengan harga cukup mahal.
Keadaan inilah membuat ponsel BM bebas beredar. Ponsel BM
adalah barang yang sudah dijual tidak memiliki standardisasi
dari pabrikan.
“Peredaran ponsel BM ini memang merisaukan. Karena itu,
kita tidak pernah menerima atau menjual ponsel BM,”
tuturnya. Hal serupa dikatakan Mirah, karyawan toko ponsel
lainnya. Bisnis ponsel bekas akan mendatangkan untung besar
apabila produk yang dijual bukan BM.
“Peredaran ponsel BM hanya bisa diminimalisasi. Tidak
dapat dihilangkan apalagi wilayah Indonesia begitu luas, sehingga
ponsel BM bisa masuk ke mana saja,” jelasnya.
Berbicara soal pasar ponsel bekas, Mirah menyebutkan, masih
didominasi oleh pasar menengah ke bawah. Indikatornya adalah
dari ponsel yang paling laku adalah yang harganya di bawah
Rp 1.000.000.
Lanjut ia memberikan kiat membeli ponsel bekas maupun baru.
Konsumen harus teliti seperti periksa ponsel layar, aksesori
bawaan, dan kartu garansi baik garansi resmi, toko maupun
distributor.
Untuk ponsel BM biasanya dalam satu paket tidak terdapat standardisasi,
sehingga boksnya bisa saja tidak mencantumkan merek vendornya.
Isi pembeliannya kurang lebih charger, baterai, tidak ada
buku manual (kalaupun ada petunjuknya tidak lengkap atau spesifik).
Ada kartu garansi tetapi tidak berlaku di tempat resmi. Tidak
ada aksesoris tambahan.
“Ada beberapa toko menawarkan garansi 1 tahun, tetapi
hanya dapat dipakai di toko tersebut. Barang tersebut garansinya
tidak lagi dijamin (jika toko tersebut tutup),” paparnya.
*dik
|