Denpasar (BisnisBali) –Beras bisa disubstitusi
dengan jagung, ketela pohon, sagu, kentang dan sumber karbohidrat
lainnya. Olahan bahan pangan ini masih dianggap sebagai jajanan
atau snack.
Tidak sedikit pula pedagang yang khusus menjual panganan olahan
dari substitusi beras ini, sebagai salah satu makanan favorit
masyarakat. Sebagai contoh, nasi sela, nasi jagung, kue sagu
dan olahan lain yang dikombinasikan dengan lauk pauk atau
kelapa parut dan gula.
Demikian dikatakan petani dan pedagang Ketut Budiarta, S.P.,
Rabu (20/2) kemarin, di Denpasar. “Permasalahannya sekarang
terletak pada pola makan yang selama ini sudah membentuk selera
dan rasa lidah. Sebelum makan nasi dan lauk-pauk, maka itu
dikatakan belum makan,” ujarnya.
Secara perlahan sumber karbohidrat selain beras ini bisa disisipkan
di antara pola makan sehari-hari. Hal yang penting dari semua
jenis makanan adalah, kandungan gizinya dan pola makan yang
benar sehingga menjadikan hidup lebih berkualitas, pola pikir
jernih dan dapat mengurangi impor beras.
Dikatakan, imbauan pemerintah agar masyarakat mulai melakukan
penganekaragaman makanan pokok dan tidak hanya tergantung
pada beras sebenarnya sudah dilakukan masyarakat sejak dulu
namun belum optimal. Seiring dengan makin menyempitnya lahan
pertanian dan harga beras yang makin melambung, imbauan ini
pun makin sering didengungkan.
Pengamat gizi, Ida Ayu Eka Padmiari, S.KM., M.Kes., sebelumnya
mengatakan, penganekaragaman pangan pokok tanpa disadari sebenarnya
sudah ada terbukti dari banyaknya jenis olahan pangan berkarbohidrat
yang dijual seperti nasi jagung, nasi sela, kentang goreng,
kue sagu dan lainnya.
Namun konsumsi masyarakat pada pangan olahan nonberas ini
masih minim. Besarnya kandungan gizi juga harus dianalisis
para ahlinya.
Kesibukan dan mobilitas tinggi, membuat masyarakat menginginkan
segala sesuatu serba cepat termasuk dalam hal makanan. Makanan
siap sajilah yang menjadi pilihan, sedangkan sumber karbohidrat
lain harus diolah dulu sesuai selera keluarga yang berarti
membutuhkan waktu.
“Dengan lahan yang makin terbatas, Bali tidak akan mampu
lagi memenuhi kebutuhan pangannya sendiri sehingga tergantung
pada daerah lain bahkan ekspor,’’ jelasnya.
Para pakar tata boga sebenarnya memiliki peranan penting dalam
hal ini, jangan hanya memperkenalkan makanan modern atau makanan
luar negeri.
Mengarahkan dan membiasakan pangan alternatif lain, menjadi
tugas semua orang bukan hanya ahli gizi juga pakar tata boga
tapi juga pemerintah dan masyarakat.*rya
|