Gianyar (BisnisBali) –Kerajinan pembuatan pelinggih
dari bahan baku batu sejak beberapa tahun terakhir ini perkembangannya
sangat pesat. Akibatnya persaingan di sektor usaha ini sulit
bisa dihindarkan, bahkan sangat ketat. Padahal, bahan baku
batu lahar misalnya terus mengalami lonjakan, seiring dengan
makin menipisnya persediaan.
Made Wijana, pengusaha sekaligus perajin aneka pelinggih dari
batu lahar di Ketewel Sukawati, Selasa (19/2) kemarin mengungkapkan,
persaingan yang sangat ketat di antara pengusaha pelinggih
membuat penghasilan yang diperolehnya makin menurun.
Belum lagi harga bahan baku batu yang sebelumnya Rp 1,3 juta
per truk, kini sudah mencapai Rp 1,5 juta per truk. Untuk
mengurangi kemungkinan kerugian yang dideritanya, satu-satunya
yang harus dilakukan hanya dengan menjaga kualitas produk.
Karena hanya dengan menjaga kualitas produk, konsumen akan
datang membelinya, meski keuntungan yang diperolehnya tidak
seimbang dengan pengeluaran biaya ongkos tukang, buruh, angkut
dan lain-lain.
Karena baginya, hanya dengan tetap berusaha, pihaknya membantu
masyarakat dalam hal memperoleh lapangan pekerjaan.
“Kalau hanya gara-gara persaingan, usaha harus saya
hentikan, berapa orang yang terpaksa kehilangan pekerjaan,”
terang Wijana sambil menambahkan, pelinggih dari batu lahar
(hitam) sampai saat ini permintaan konsumen lumayan ramai.
Pesanan mata dagangan itu tidak saja dari warga masyarakat
di daerah ini, tetapi juga dari luar Bali termasuk pasar mancanegara.
Namun, untuk pasar mancanegara biasanya yang laris berupa
candi bentar. Pemasaran candi bentar paling banyak ke Jepang
.
Menurut Wijana, dengan makin mahal dan sulitnya mendapatkan
batu lahar untuk pembuatan aneka pelinggih itu sejatinya produksi
mata dagangan kerajinan tersebut tidak lagi memberikan peluang
yang menjanjikan.
Hal yang terjadi sekarang ini, kebanyakan perajin tidak rela
harus kehilangan lapangan pekerjaan gara-gara persaingan yang
sangat ketat.
Perajin berlomba-lomba agar dapat memberikan pelayanan yang
terbaik kepada pelanggannya seperti tetap menjaga kualitas
produk yang dihasilkannya.
“Perajin pelinggih yang tidak mampu menjaga kualitas,
pasti sudah dijauhi pembeli di samping harus menanggung kerugian
yang tidak begitu sedikit,” kata Wijana. *mur