Gianyar (BisnisBali) –Selama ini perajin sebagai
produsen selalu terhimpit kondisi bisnis kerajinan berwawasan
ekspor. Mulai dari kendala bahan baku, teknologi produksi,
pemasaran sampai pengiriman barang, selalu membuat perajin
terjepit.
Seperti sekarang ini biaya pengiriman barang ekspor di Pelabuhan
Tanjung Perak Surabaya mengalami kenaikan. Tentunya berdampak
pada biaya pengiriman aneka produk ekspor ke berbagai negara
tujuan ekspor.
Biaya pengiriman barang naik, secara otomatis akan berpengaruh
terhadap biaya produksi. Biasanya biaya ekspor naik, maka
akan terjadi penurunan nilai beli di tingkat perajin oleh
pengusaha ekspor.
I Wayan Rajeg, salah seorang perajin suvenir asal Tegalalang,
Gianyar, Selasa (19/2) kemarin mengatakan, sudah menjadi kebiasaan
pebisnis kerajinan kalau terjadi pembengkakan biaya ekspor
akan membebankan ke perajin. Secara mendadak harga order akan
menurun.
“Ini sudah menjadi kebiasaan pengusaha ekspor menurunkan
harga beli kerajinan kalau saja terjadi pembengkakan biaya
ekspor. Seperti terjadi kenaikan harga kirim beberapa waktu
lalu juga dibebankan kepada perajin di tingkat bawah. Mau
tidak mau, sebagai perajin pasti menerima pesanan dengan harga
turun. Dibandingkan tidak memiliki pekerjaan,” katanya.
Rajeg menjelaskan, sekarang ini sudah banyak kendala yang
dihadapi perajin. Selain kendala bahan baku (selain terjadi
kenaikan harga kayu juga stok kayu sudah menipis), juga terkendala
teknologi produksi. Seperti keterlibatan teknologi dalam proses
produksi kerajinan masih sangat minim.
Kebanyakan perajin masih mengandalkan proses manual dan tradisional.
Hal ini berbeda dengan produsen dari negara pesaing lainnya,
sudah mampu memperdayakan teknologi sebagai andalan proses
produksi.
I Nengah Rangkep, perajin lainnya asal Pejeng-Gianyar menambahkan,
selama ini selain masalah bahan baku dan teknologi, perajin
juga kendala pemasaran. Sehingga sangat mudah dipermainkan
pebisnis ekspor.
“Seperti sekarang ini, terjadinya kenaikan harga pengiriman
akan berimbas terhadap harga beli kerajinan oleh eksportir.
Karena alasan kalah bersaing dengan kerajinan negara pesaing,
maka mau tidak mau harus menurunkan harga produksi. Imbasnya,
perajin yang sudah kecil selalu tercekik.
Dapat dipastikan para pengusaha ekspor akan menurunkan harga
beli,” tegasnya sambil mengakui sekarang ini order masih
ramai. Harga beli belum terjadi penurunan, tetapi kalau benar
ada kenaikan harga pengiriman, dalam waktu dekat ini akan
berdampak negatif terhadap aktivitas perajin. *sta
|